Oleh Zulkifli ijoel
(PA Bangkinang)

Sebentar lagi kita umat Islam diseluruh penjuru dunia akan melaksanakan hari raya Idul  Adha, tepatnya tanggal 10 Zulhijjah  1436 H, bertepatan hari Kamis tanggal 24 September 2015,  ketika kita melaksanakan Idul Adha tersebut tidak ada kalimat yang layak dikumandangkan melainkan kalimat takbir, tahmid dan tahlil sebagai ungkapan rasa sukur dari lubuk hati yang dalam atas segala nikmat Allah swt, yang Allah karuniakan kepada kita yang tidak cukup kata untuk melukiskannya, tidak cukup tinta untuk menuliskannya dan tidak cukup angka untuk menghitungnya, suatu nikmat yang sangat mahal yang tidak pernah dapat dijual,  murah tidak pernah  dapat dibeli, itulah kalimat Iman, Islam dan Ihsan yang membimbing kita dalam mengarungi bahtera kehidupan ini agar tidak tenggelam ditelan ombak kehidupan fana, material duniawi dan rayuan serta tipuan setan.

Dibalik kata yang penuh pujian dan sanjungan atas keagungan Allah swt, terkandung makna yang sangat dalam, kalimat-kalimat takbir, tahmid dan tahlil tersebut bukanlah hanya ucapan lidah dan bukan pula senandung irama takbir yang menggema ke angkasa, melainkan kalimat yang diucapkan oleh lidah sebagai manipestasi, realisasi dan perwujudan dari keimanan dan ketakwaan yang terpatri dalam lubuk hati yang dalam. Dalam kalimat tauhid itu tersimpan makna-makna Iman, Islam dan ihsan yang  merupakan aspek utama dalam membentuk jadi diri seorang muslim.

Jati diri atau keperibadian muslim tergambar oleh sifat taqwa yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari tidak memandang apakah ia kaum dhu’afa’ atau konglomerat dan orang-orang kaya, para penguasa dan pejabat atau masyarakat awam, semua status tersebut sama dihadapan Allah swt, yang membedakannya hanyalah taqwa kepada Allah swt, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang artinya  “sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah swt adalah orang yang paling taqwa”.


selengkapnya, klik disini


{jcomments on}