MANAJEMEN DALAM ISLAM DAN KETELADANAN SAHABAT NABI DALAM MENJALANKAN TUGAS

Kegiatan Pembinaan Mental bulan Mei 2012 di Ruang Kepaniteraan PA Bengkalis

Bengkalis||pa-bengkalis.go.id

Istilah manajemen, memang baru muncul pada awal abad ke-20 dengan ditandai Revolusi Industri di benua Amerika dan Eropa. Tetapi sesungguhnya, manajemen sendiri sama usianya dengan sejarah peradaban manusia. Meskipun sederhana, manusia pra-sejarah juga telah menggunakan manajemen dalam hidupnya. Kemudian manajemen tumbuh dan berkembang bersama perkembangan zaman dan peradabannya. Lalu manakah manajemen yang terbaik? Jawabannya tentu manajemen yang memiliki sentuhan agama. Karena agama tidak hanya mengatur kehidupan sosial tetapi juga mengatur ritual juga mengatur hubungan manusia dengan kehidupan semesta secara universal bahkan bertanggungjawab pada Sang Pencipta. Tentu saja, Manajemen Islam-lah yang terbaik.

Alinea di atas menjadi muqaddimah kegiatan bintal di PA Bengkalis, yang disampaikan oleh, Dadi Aryandi, S.Ag, pada hari Senin tanggal 28 Mei 2012, setelah sebelumnya dibuka terlebih dahulu oleh seorang Jurusita Pengganti, Idham Khalid.

Dalam uraiannya, Hakim yang juga lulusan sebuah pesantren besar di Tasikmalaya Jawa Barat ini mengutip uraian salah seorang ahli Manajemen Islam yakni Syekh Mahmud Al-Hawary mengenai manajemen (al-idarah) itu seumpama perahu besar yang hendak berlayar, dimana kita harus memperhatikan 4 hal, yaitu: Mengetahui arah yang dituju, mengetahui kesukaran yang harus dihindari, mengetahui potensi (kekuatan) yang dimiliki dan mengetahui cara menggunakan kapal tersebut dengan kerjasama antara nakhoda dan awak kapal secara efektif dan efisien. Dalam pendapat lain, Prof. KH. Ali Yafie menjelaskan bahwa dalam Islam,manajemen dipandang sebagai perwujudan amal sholeh yang harus bertitik tolak dari niat baik. Dan ada empat landasan untuk mengembangkan manajemen tersebut, yaitu: kebenaran, kejujuran, keterbukaan, dan keahlian.Hal ini selaras dengan sifat Nabi dan Rasul: Shidiq, Amanah, Tabligh dan Fathanah.

Dari kiri ke kanan: KPA Bengkalis, Dadi Aryandi, S.Ag (penceramah) dan Idham Khalid (pembawa acara)

Unsur manajemen yang dikembangkan di dunia barat juga sesungguhnya sudah ada dalam konsep Islam:
a.    Perencanaan /Planning (al-Takhtith), disebutkan dalam satu hadits riwayat Thabrani, “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang diantara kamu yang apabila melakukan pekerjaannya secara itqan (tepat, terarah, jelas, tuntas);
b.    Pengorganisasian/ Organizing (al-tanzhim), dijelaskan dalam surat Ali Imran: 103;
c.    Pelaksanaan / Actuating (al-tansiq), terkandung dalam Surat Al-Baqarah: 208); dan
d.    Pengawasan/ Controling (al-Raqabah), termuat dalam Ash-Shaff: 1

Sebagai pelengkap, keteladanan para Sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ut tabiin dalam menjalankan tugas dalam daulah islamiyah pun dapat digali sebagai sumber ilmu manajemen. Diantaranya:

-    Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik, seperti yang diambil dari keteladanan SALMAN ALFARISI yang bukan orang Arab, namun strateginya diadopsi dalam perang Khandaq;
-    Kreatif dan inovatif dalam koridor ijtihad, seperti yang dilakukan MUADZ bin JABAL ketika ditugaskan ke Yaman, mendapat kendala jarak yang jauh untuk berkonsultasi/ berkoordinasi langsung dengan Rasulullah SAW;
-    Kuat mental meskipun dalam keadaan terdesak, seperti yang dilakukan SALAHUDIN AL-AYUBI yang meskipun terdesak, namun dengan mengobarkan semangat, akhirnya memenangkan peperangan;
-    Memisahkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, seperti yang dilakukan KHALIFAH UMAR bin ABDUL AZIZ, yang tidak menggunakan fasilitas negara saat melakukan pembicaraan keluarga/ pribadinya; dan
-    Menjaga perut dari penghasilan yang tidak halal, seperti teguran dan ancaman Rasulullah SAW terhadap IBNU UTBIAH yang menerima gratifikasi (hadiah/ pemberian karena jabatan) saat dia ditugaskan sebagai pemungut zakat; (Tim Redaksi)

{jcomments on}