SATU KESULITAN TIDAK AKANMENGALAHKAN DUA KEMUDAHAN

Penceramah M. Misbachul Anam, S.HI.,MH sedang menyampaikan tausiyah

Bengkalis||pa-bengkalis.go.id

Pagi ini suasana di kantor PA Bengkalis tampak lain dari biasanya. Tepat pukul 08.15 WIB, para hakim, pegawai dan tenaga honorer tidak terlihat berada di meja kerjanya masing-masing. Ternyata mereka sudah berkumpul di ruang kepaniteraan PA Bengkalis. Hari ini, Kamis (28/06/2012), akan dilaksanakan kegiatan Pembinaan Mental (Bintal) yang rutin diadakan setiap bulan di Pengadilan Agama Bengkalis.

Seperti biasa, acara kegiatan Bintal ini dibuka dengan bacaan Basmalah oleh pembawa acara yang telah terjadwal, yaitu Siti Fatmawati, salah seorang tenaga honorer PA Bengkalis. Kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian materi Bintal yang pada kesempatan ini disampaikan oleh Muchamad Misbachul Anam, salah seorang hakim PA Bengkalis.

Mengawali pemaparannya, Anam, begitu dia biasa disapa, mengajak kepada seluruh personil PA Bengkalis untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, karena bekerja juga merupakan suatu bentuk ibadah. Dan semakin baik dalam bekerja akan semakin bagus pula nilai ibadah pekerjaan itu. “Sebagai motivasi agar dapat melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan kita, maka harus kita meyakini bahwa tidak ada yang sulit dalam bekerja”, ujar hakim yang sudah 3 tahun bertugas di PA Bengkalis ini.

Dalam penjelasan lebih lanjut, disebutkan bahwa paling tidak ada tiga hal yang akan membuat bekerja menjadi lebih mudah atau terasa mudah, yaitu memahami pekerjaan, tidak pernah berhenti belajar, dan meyakini akan adanya kemudahan dalam setiap kesulitan, termasuk dalam masalah pekerjaan.

Peserta Bintal saat mendengarkan tausiyah

 “Program kerja suatu intansi akan berjalan dengan baik manakala pegawai atau pekerjanya dapat melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing dengan baik. Maka dari itu, kita sebagai pegawai harus memahami tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) kita masing-masing”, terang mantan calon hakim dari PA Brebes ini.

Lebih lanjut diterangkan bahwa dengan memahami Tupoksi-nya masing-masing, akan lebih memudahkan terselesaikannya pekerjaan. Jangan sampai terjadi ada satu pekerjaan dikerjakan oleh banyak orang, sementara ada pekerjaan yang tidak selesai karena tidak ada orang yang mengerjakannya. “Hakim tentunya bekerja sesuai tugasnya, seperti bersidang dan membuat putusan. Begitu pula Panitera Pengganti bertugas bersidang dan membuat Berita Acara Persidangan (BAP), Juru Sita Pengganti melaksanakan tugasnya menyampaikan panggilan kepada para pihak, dan pegawai lainnya juga melaksanakan pekerjaan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing”, jelasnya. “Ini sesuai dengan ungkapan ‘likulli maqaamin rijaalun’ yang artinya bahwa dalam setiap posisi pasti ada orang yang layak atau sesuai untuk menempatinya (right man on the right place)”, imbuhnya.

Menurut Anam, hasil dari suatu pekerjaan sangat erat kaitannya dengan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki. Artinya, seseorang yang mempunyai ilmu dan pengetahuan yang memadai tentu hasil kerjanya juga akan berkualitas. Di samping, ilmu dan pengetahuan tersebut juga akan mempermudah seseorang dalam menyelesaikan pekerjaannya. Oleh karena itu, selalu menambah ilmu, antara lain dengan rajin membaca, merupakan hal yang tidak boleh dikesampingkan bagi setiap pegawai.

“Adanya program Reformasi Birokrasi (RB) di lembaga peradilan kita saat ini, mengharuskan kita sebagai aparat peradilan untuk lebih meningkatkan kinerja kita. Selain itu kita juga dituntut untuk menguasai hal-hal baru, misalnya yang berkaitan dengan perkembangan permasalahan hukum terkini ataupun pemanfaatan IT (Information Technology) seperti aplikasi SIADPA dan website. Oleh karena itu kita harus senantiasa meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) kita, antara lain dengan mengembangkan budaya membaca (iqra`)”, jelas hakim yang meraih gelar Magister Hukum dari Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang ini.

Mengutip dalil al-Qur’an, yaitu ayat pertama Surat al-‘Alaq yang berisi perintah “iqra`” kepada Nabi Muhammad, Anam menjelaskan bahwa perintah tersebut juga berlaku secara umum kepada kita semua. Menurutnya, “iqra`” di sini dapat diartikan membaca atau belajar. Berdasarkan penjelasannya, dalam ilmu gramatikal arab (Nahwu-Sharaf), kata “iqra`” merupakan fi’il amar (kata yang menunjukkan arti perintah) yang bersifat muta’adi (transitif), sehingga membutuhkan maf’ul bih (obyek).

Selanjutnya Anam juga mengingatkan kepada pegawai yang telah mendekati masa pensiun untuk tidak malas menambah ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan, karena dengan ilmu akan dapat meningkatkan dan mempermudah pekerjaan. Menurutnya, usia lanjut tidak bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk malas atau berhenti belajar, karena Nabi Muhammad sendiri menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu mulai sejak berada di ayunan (bayi) sampai meninggal dunia (long life education).

Satu Kesulitan dan Dua Kemudahan

“Sebagai seorang muslim kita harus meyakini bahwa dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Termasuk juga dalam pekerjaan, sesulit dan seberat apapun pekerjaan kita pasti ada saja jalan kemudahan untuk menyelesaikannya. Selanjutnya dia mengutip ayat 5 dan 6 Surat al-Insyirah yaitu:

Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

Berkaitan dengan penjelasan ayat tersebut, lanjut Anam, dalam kitab Al-Jami’u li Ahkamil Qur’an (karangan Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi) atau lebih familiar dengan sebutan Tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan”.

Menurut penjelasan Anam, hadis tersebut menerangkan bahwa “kesulitan (al-‘usri)” dalam ayat di atas dihitung “satu”, sedangkan “kemudahan (yusron)” dihitung “dua”. Padahal dalam ayat di atas, kata “al-‘usri” dan kata “yusron” sama-sama disebut sebanyak dua kali. Menurutnya, untuk memahami hal tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan disiplin ilmu Ma’aani, salah satu fan dari ilmu Balaghah. Selanjutnya, dia membacakan tiga baris syair (nadzom) dari kitab ‘Uqudul Juman karya Aburrahman As-Suyuthi.

“Kata “al-usri” dalam ayat di atas adalah berbentuk ma’rifat karena bersama dengan “al-“, sedangkan kata “yusron” berbentuk nakiroh karena tidak bersamaan dengan “al-“, sehingga kata “al-usri” yang pertama dan kedua mempunyai arti atau maksud yang sama, sementara kata “yusron” mempunyai arti atau maksud yang berbeda antara kata pertama dengan kata kedua”, terang Anam. “Dengan demikian, dari ayat di atas dapat dipahami bahwa sesungguhnya dalam satu kesulitan itu ada kemudahan, dan dalam kesulitan yang sama itu ada kemudahan.

Kegiatan Bintal ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Acara berakhir tepat ketika waktu menunjukkan pukul 08.45 WIB. Setelah membacakan jadwal kegiatan Bintal untuk bulan yang akan datang, pembawa acara lalu menutup kegiatan Bintal dengan bacaan Hamdalah. (Tim Redaksi)

{jcomments on}