Dumai, sidang pemeriksaan setempat (Descente) dalam perkara sengketa harta bersama yang dilaksanakan oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama Dumai di Desa Sebangar Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis pada hari kamis ( 05/07/2012), yang objek sengketanya terdiri dari 6 objek berbentuk benda tidak bergerak berupa 4 bindang tanah yang diatasanya  ditanami kelapa sawit , 1 bidang tanah perkarangan dan 2 bangunan rumah permanen serta 3 berbentuk benda bergerak berupa 3 unit sepeda motor.

Sidang pemeriksaan setempat yang dibuka sekitar jam 09.30 WIB dikantor Desa Sebangar oleh Majelis Hakim yang terdiri dari Drs. H. Muhlis sebagai Ketua Majelis, Milda Sukmawati,S.HI dan Massahudin, S.HI masing-masing sebagai hakim anggota serta Multazam, S.HI selaku Panitera Pengganti yang dihadiri oleh para pihak dan aparatur desa setempat berjalan cukup kondusif, meskipun dalam kondisi ruangan yang tidak terlalu representatif namun  formalistas persidangan tetap terjaga dan terarah. Setelah memberikan penjelasan  tentang substansi sidang pemeriksaan setempat atau hal yang lazim populer dilingkungan Peradilan Agama dengan istilah PS, kemudian Ketua Majelis hakim memerintahkan kepada para pihak untuk bersama-sama meninjau keberadaan objek-objek harta bersama yang dipersengketakan mereka.

Setelah melakukan perundingan sesaat tentang pilihan awal peninjauan lokasi sengketa, kemudian rombongan Majelis Hakim yang dipimpin oleh Drs. H. Muhlis tersebut, bersama para pihak dan aparatur desa setempat berangkat menuju lokasi  dan dari informasi yang diperoleh oleh tim IT PA Dumai yang bersumber dari para pihak dan aparatur desa setempat, bahwa ada 6 titik lokasi objek sengketa yang akan ditinjau oleh Majelis Hakim, yang keberadaan dan jarak antar lokasi tersebut berada di 4 tempat (RT) yang jaraknya diperkirakan antar lokasi ada yang sekira 10  s/d 20 Km, dan ada 2 lokasi yang medannya cukup sulit, tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat, imbuhnya.

eninjauan lokasi objek sengketa Harta bersama yang diawali di RT 06 Desa sebangar, yang kemudian dilanjutkan ke RT 01 yang jaraknya sekitar 10 Km, namun masih bisa ditempuh oleh kendaraan roda 4 meskipun dengan kondisi jalan yang begitu parah dan dalam situasi panas yang sangat menyengat, rombongan Majelis Hakim tersebut tetap konsisten dan bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaan mulianya. kurang lebih sekitar 1 jam meninjau dan memeriksa keberadaan objek sengketa di lokasi RT. 06 dan RT. 01 tersebut,kemudian rombongan Majelis Hakim, melanjutkan peninjauan dilokasi berikutnya yaitu di RT 02 dan RT 04 Desa Sebangar.

Suasana bising tapi merdu nyanyian oplet tua tumpangan rombongan Majelis Hakim, ditengah jalan bergelombang bercampur lumpur bebatuan tiba – tiba terhenti sekitar 30 menit perjalanan, hal tersebut terjadi karena lokasi yang akan dituju jalannya tidak memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan roda 4, dengan wajah terlihat kusut dan pakaian yang sedikit basah oleh keringat karena oplet tua beracekan alam, dengan pelan tapi tetap tegar dan berwibawa para wakil tuhan mulai turun dari mobil dan kemudian melanjutkan perjalan kelokasi objek sengketa dengan menggunakan kendaraan roda dua. Sekitar 1 jam perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 15 Km dengan medan yang cukup sulit, Majelis Hakim akhirnya tiba dilokasi objek sengketa yaitu RT 04, dengan dihadiri para pihak dan disaksikan oleh aparatur desa, Majelis Hakim mulai melakukan pemeriksaan terhadap objek sengketa tersebut, setelah selesai melakukan pemeriksaan, kemudian perjalanan dilanjutkan keobjek sengketa berikutnya  yaitu RT. 02 yang jaraknya sekitar 10 Km dari objek sengketa tersebut.

Dalam pelaksanaan sidang pemeriksaan setempat (Descente) kali ini, ada hal yang sangat menarik perhatian  Tim IT PA Dumai selama mengikuti pelaksanaan sidang pemeriksaan setempat tersebut, yaitu sosok srikandi hakim muda PA Dumai, Milda Sukmawati, S.HI, ditengah terik matahari yang begitu menyengat dan medan perjalanan yang cukup sulit dan melelahkan, dia merelakan status wakil tuhan yang disandangnya demi memberikan pelayanan yang terbaik bagi pencari keadilan, dengan khas senyumnya, tanpa ragu dan tanpa takut dengan sengatan panasnya terik matahari kala itu, tetap konsisten mengemban amanat sebagai yang mulia dengan tetap ikut bersama rombongan Majelis Hakim yang lainnya mengendarai roda dua menuju lokasi objek sengketa, sesuatu yang patut dicontoh, kerendahan hati demi bakti terhadap ibu pertiwi.

Disuasana santai, pada saat istrihat untuk sedikit melepas penat, Tim IT PA Dumai berbincang santai dengan Ketua Majelis Drs. H. Muhlis dalam perbincangan tersebut Ketua Majelis dan juga sebagai pemimpin robongan sidang pemeriksaan setempat tersebut, memberikan penjelasan singkat tentang signifikasi Descente atau pemeriksaan setempat, dalam penjelasannya beliau menyatakan bahwa pemeriksaan setempat (Descente) atau yang biasa dikenal dengan PS, merupakan salah satu upaya untuk memberikan kepastian hukum tentang kebenaran keberadaan objek sengketa dan juga sebagai instrumen untuk memperkuat keyakinan hakim dalam menilai kebenaran objek sengketa gugat, guna untuk dijadikan landasan dalam memberi keputusan hukum yang adil dan bersifat mengakhiri sengketa. Dan juga beliau menambahkan bahwa pemeriksaan setempat juga sebagai perwujudan dari amanat Sema nomor 7 tahun 2001.

Disinggung soal medan yang cukup menantang dan melelahkan Ketua Majelis yang bergaya nyentrik namun tetap berwibawa, tersenyum sebelum menjawab, dalam bahasanya “kami pelayan masyarakat pencari keadilan,sudah seharusnya dan sepatutnya bagi kami untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi majikan kami (masyarakat pencari keadilan)” dan tidak ada kata lelah dan bosan untuk memberikan pelayanan hukum dan keadilan dalam kamus kami, namun tetap dalam bingkai integritas dan profesionalisme.

 Setelah kurang lebih sekitar 4 jam, proses sidang pemeriksaan ditempat selesai dilaksanakan, yang ditandai dengan ditutupnya persidangan oleh Ketua Majelis Drs. H. Muhlis, dan tepatnya sekitar Jam. 15.30 WIB. rombongan Majelis Hakim yang melaksanakan sidang pemeriksaan setempat bertandang dari Desa Sebangar untuk pulang ke Dumai. (by. Udien El-Moendoeky)

{jcomments on}