“ANCAMAN BAGI ORANG YANG  TIDAK BERPUASA TANPA UDZUR SYAR’I”

Tg. Balai Karimun | pa-tbkarimun.net

Masjid tersebut berdiri sangat megah, sedikit agak jauh dari pemukiman masyarakat, di atas   pagar  tertulis pelang nama beton “Masjid Agung Karimun” Masjid kebanggaan masyarakat kabupaten Karimun. Meskipun jauh dari pemukiman, namun  jaamah tetap ramai berdatangan, irama lantunan bacaan ayat suci Al quran oleh para iman hafiz Al quran yang  digaji oleh Pemkab. Karimun inilah salah satu daya tariknya, disamping juga  para muballiqh pilihan yang memberikan tausyiah  selama ramadhan, dua orang diantara muballigh pilihat tersebut, Ketua dan Wakil Ketua PA Tanjung Balai Karimun.

Setelah malam ke 11 Ramadhan  1433 H, KPA Tanjung  Balai Karimun memberikan  tausyiah. Tadi malam (14 Ramadhan 1433 H),  mendapat giliran Wakil Ketua Pengadilan Agama Tanjung  Balai Karimun  (Drs. Syafi’i) yang memberikan Tausyiah ditempat yang sama.

Mengawali muqaddimahnya  WKPA Tanjung Balai Karimun Drs. Syafi’i, menyampaikan bahwa selama 13 malam ramadhan telah diberikan tausyiah oleh pada ustaz,  barang kali sudah banyak di bekali  dengan ilmu tentang keutamaan dan keistimewaan  puasa ramadhan,  pada malam  ini justru sebaliknya Saya akan menyampaikan  tentang ancaman  bagi orang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i” ujar  Wakil Ketua yang  baru saja terpilih sebagai Wakil Ketua MUI Kabupaten Karimun ini.

Mengawali uraiannya WKPA Tanjung Balai Karimun  menjelaskan bahwa  Puasa merupakan rukun Islam, yakni salah satu tiang penopang keislaman seseorang. Artinya, tidak akan kokoh bangunan keislaman seseorang jika ia tidak melakukannya. Sayangnya, di zaman sekarang ini begitu mudah kita jumpai sebagian muslimin bermudah-mudahan meninggalkan amalan ini baik yang sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Sungguh memiriskan hati bagi orang-orang yang mempunyai keimanan di hatinya.

Lantas bagaimana jika seseorang yang tidak memiliki udzur syar’i tidak berpuasa di bulan Ramadhan?

Jawabannya, tidak berpuasa Ramadhan tanpa alasan yang syar’i (dibenarkan oleh syariat) merupakan dosa besar! Pelakunya diancam dengan siksa neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda yang artinya.

“Ketika aku tidur, aku didatangi dua orang lelaki. Mereka pun mengambil lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Mereka mengatakan kepadaku, ‘Panjatlah!’ Aku katakan, ‘Aku tidak bisa.’ Mereka menjawab, ‘Kami akan memudahkannya untukmu.’ Aku pun memanjatnya, hingga ketika sudah di puncak gunung, tiba-tiba aku mendengar suara yang keras. Aku bertanya, ‘Suara apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini raungan penduduk neraka.’ Aku pun pergi hingga aku melihat “sebuah kaum yang digantungkan tumit-tumitnya dan robek pipi-pipi mereka. Mengalir darah dari pipi mereka. Aku pun bertanya, ‘Siapa mereka ini?’ Mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktu selesainya puasa’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullahu di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)

Begitu mengerikannya azab yang kelak akan diterima orang-orang yang berbuka (tidak berpuasa) di bulan Ramadhan tanpa adanya udzur. Masihkah kita bermudah-mudahan dan meremehkan perkara ini? Tidak takutkah kita dengan ancaman siksa neraka seperti yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam di atas? Maka, renungkanlah…

Lalu bagaimana bila seseorang tidak berpuasa tanpa adanya udzur, apakah mereka diwajibkan untuk mengqadha’ (menggantinya di hari lain) puasa yang ditinggalkannya itu?

Sebagian ulama -seperti Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu- berpendapat bahwa mereka tidak mengqadha’. Tidak diwajibkannya mengqadha bukan berarti perkara ini remeh, justru ini merupakan hukuman bagi mereka yang membatalkan puasa dengan sengaja pada bulan Ramadhan. Di mana, dia tidak diberi kesempatan menambal (menebus) kesalahannya ini.

Lalu, bagaimana caranya jika seseorang ingin bertaubat sementara ia tidak diperintahkan untuk mengqadha’nya? caranya, dengan dia benar-benar bertaubat, menyesali dan tidak mengulangi perbuatan tersebut disertai dengan menambah (memperbanyak) amalan-amalan shalih sehingga semoga hal ini bisa menutup kesalahannya….… Wallahu a’lam bish-shawab…………….(Tim Redaksi)..

{jcomments on}