Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Tanjungpinang telah mengatur khatib-khatib yang akan memberikan khutbah pada shalat iedul fithri 1433 H di Masjid dan tanah lapang yang berada di Kota Tanjungpinang. Gubernur Kepulauan Riau, Drs. H. Muhammad Sani, akan berkhutkabh di Lapangan Sekip Sulaiman Abdullah Tanjungpinang, sementara itu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Propisnsi Kepulauan Riau, Drs. H. Handarlin Umar, akan memberikan khutbahnya di lapangan Pamedan A Yani Kota Tanjungpinang. Ketua Pengadilan Agama Tanjungpinang Drs. Nur Mujib, MH., akan berkhutbah di Masjid Uswatun Hasanah, Suka Berenang Tanjungpinang.

Ketua PA Tanjungpinang, Drs. Nur Mujib, MH., ketika memberikan khutbah iedul fithri 1433 H di Masjid Uswatun Hasanah Tanjungpinang

Ketua Pengadilan Agama Tanjungpinang dalam khutbahnya mengambil tema “Dengan Iedul Fithri Kita Bangun Hablun Minallah dan Hablun Minannas”, mengajak bahwa dengan selesainya ibadah puasa Ramadhan ini hendaknya kaum muslimin bisa lebih meningkatkan hablun minallah dengan memperbanyak ibadah dan membangun hablun minannas dengan jalan mempererat tali silaturrahim diantara ummat Islam.

Dalam khutbahnya Drs. Nur Mujib, MH., antara lain menyampaikan : Kita telah selesai melaksanakan perintah Allah SWT menunaikan ibadah shiyamu ramadhan, pada bulan Ramadhan tahun ini. Dan kita bersyukur telah keluar sebagai pemenang dalam jihad akbar, memerangi nafsu yang justru ada pada diri kita sendiri. Bersamaan dengan itu, pada hari ini kita diliputi oleh suasana damai dan penuh kasih sayang. Kita saling memaafkan merajut kembali suasana kemesraan diantara kita, yang barangkali selama ini ada yang terkoyak, berjabat tangan untuk menghapus noda dan dosa yang terlanjur kita perbuat, mengakui dengan tulus kesalahan masing-masing. Tidak ada dendam dan kebencian karena training puasa telah membuat jiwa kita menjadi besar lagi lapang dan melupakan semua tetek bengek yang timbul dari hawa nafsu kita. Hari ini kita merasakan nikmat kemenangan, kita menjadi manusia yang fitrah, suci seperti bayi yang baru lahir ke dunia. Kemenangan itulah yang membuat kita berkumpul disini, membaca takbir dan tahmid, membesarkan dan memuji Allah SWT.

Lebih lanjut dinyatakan : Dengan ibadah puasa kita membersihkan diri di hadapan Allah. Tinggal dosa kita yang Allah tidak akan memberi maaf jika kita belum minta maaf kepada yang bersangkutan. Kita adalah mahluk sosial tidak bisa hidup sendirian tanpa orang lain. Kita adalah mahluk yang bermasyarakat.

Dalam pergaulan hidup sehari-hari, entah besar entah kecil, entah sengaja entah tidak, kita pernah terserimpung berbuat salah. Maka pada saat iedul fithri inilah kita saling memaafkan. Disini letak kebahagiaan iedul fithri, yaitu kemenangan mengendalikan nafsu dengan berpuasa dan membina keharmonisan pergaulan dengan bermaaf-maafan.

Ada sebuah dialog antara Rasulullah dengan para sahabatnya dimana Rasul bertanya : A Tadruuna mani ‘l muflis ? Tahukah kamu siapakah orang yang bangkrut itu? Diantara sahabat ada yang menjawab : “Orang yang bangkrut itu ialah yang habis harta dan perkakas rumahnya untuk membayar hutang dan belum juga lunas, sehingga ia tidak punya harta benda”.

Kebanyakan para sahabat menjawab seperti itu, siapa banyak duit ialah raja, barang siapa tidak punya duit selamat bengong. Apalagi disaat lebaran dimana orang pada kalap memborong barang. Para sahabat mungkin terpengaruh oleh kenyataan dimana duit bisa bikin gagah orang dimana-mana. Dimana dengan uang bisa jadi lidah yang paling ampuh untuk orang yang mau berbicara, uang bisa jadi senjata paling tangguh apabila dipakai di medan perang, baik perang sungguhan maupun perang di medan permusyawaratan. Uang juga bisa jadi kendaraan paling jitu bagi orang yang ingin jadi pegawai, ingin memiliki kekuasaan, ingin mendapat jabatan, memiliki posisi tertentu. Tapi apa kata Rasulullah :“Orang bangkrut dari ummatku yaitu yang datang pada hari kiyamat dengan shalat, zakat dan puasanya penuh semuanya, tetapi ia telah memiliki ini, dan makan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu, maka dibayar untuk ini dari kebaikannya dan dibayar pula untuk ini dari kebaikannya, maka bila telah habis kebaikannya sebelum selesai membayar tanggungannya, maka diambilkan dari dosa-dosa orang yang diganggu itu dan ditanggungkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke neraka”.

Orang macam itu cuma baik hubungannya dengan Allah tetapi tidak baik sesama manusia. Padahal agama menuntutnya dan mengajarkan keseimbangan untuk mengelola hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia. Iedul fithri adalah momentum yang sangat tepat untuk itu. Saat itulah kita mensucikan diri dari dosa kepada Allah dan bersilaturrahmi untuk menghapus kesalahan kepada sesama manusia. Kalau itu sudah kita lakukan maka tugas kita selanjutnya adalah menjaga semangat ramadhan dalam kehidupan sehari-hari diluar bulan Ramadhan. Wallahu a’lam bisshawab.

{jcomments on}