Ada 3 bulan dalan kalender hijriyah yang selalu menjadi perhatian pemerintah, yaitu bulan Ramadhan, bulan Syawal dan bulan Dzulhijah. Di bulan Ramadhan bulan dimana ummat Islam berpuasa, di bulan Syawal terdapat hari raya iedul fithri, di bulan Dzulhijah terdapat hari raya iedul adha. Untuk itu diperlukan kejelasan kapan awal bulan-bulan tersebut dimulai. Hal ini bisa diperoleh melalui hisab dan melalui ruykyat.

Ketua Pengadilan Agama Tanjungpinang, Drs. Nur Mujib, MH., sedang memberikan pengarahan pada acara rukyatul hilal bulan Syawal 1433 Hdi hotel Sadap

Pemerintah RI dalam menentukan awal-wal bulan tersebut menggunakan hisab dan rukyat sekaligus. Pemerintah RI menggunakan sistem hisab yang mengacu kepada sistem hisab hakiki kontemporer yang berpedoman pada ufuk mar’i. Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut “imkanurrukyat” yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan pada kalender Islam, yang menyatakan bahwa hilal dianggap terlihat dan keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut : (1). Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan (2). Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau  (3). Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

Dalam kegiatan rukyat untuk menentukan awal Syawal 1433 H, Tim Rukyat Kementerian Agama Propinsi Kepualauan Riau, Kementerian Agama Kota Tanjungpinang dan Kementerian Agama Kabupaten Bintan mengadakan rukyat, pengamatan, hilal secara bersama-sama di hotel Sadap Tanjungpinang. Tim itu terdiri dari Kementerian Agama, Pengadilan Agama Tanjungpinang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geologi (BMKG) Tanjungpinang bersama oraganisasi kemasyarakatan Islam seperti Nahdhatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia dan lain-lain.

Ketua Pengadilan Agama Tanjungpinang, Drs. Nur Mujib, MH., dalam pengarahannya antara lain menyatakan : Di Tanjungpinang pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 2012 (tanggal 29 Ramadhan versi hisab wujudul hilal), matahari terbenam diperkirakan pada jam 18:13 WIB dan bulan terbenam pada jam 17:53 WIB. Bulan terbenam terlebih dahulu baru disusul terbenam matahari. Tinggi bulan pada saat matahari terbenam tanggal 17 Agustus 2012 (jam 18:13 WIB) adalah sekitar - 5°15’ (dibawah ufuk). Karena saat matahari terbenam belum terjadi ijtimak atau konjungsi (yang akan berlangsung pada jam 22:54 WIB) maka fraksi Illuminasi sabit bulan tua kurang dari 1%, oleh karena itu bulan baru belum wujud. Karena bulan baru belum wujud, maka puasa Ramadhan bagi pengikut teori hisab (teori wujudul hilal) akan berlangsung selama 30 hari dan tanggal 1 Syawal 1433 H akan jatuh pada hari Ahad tanggal 19 Agustus 2012.

Keesokan harinya di Tanjungpinang pada hari Sabtu tanggal 18 Agustus 2012 (tanggal 29 Ramadhan versi rukyat atau versi pemerintah), matahari diperkirakan terbenam pada jam 18:13 WIB dan bulan diperkirakan terbenam pada jam 18:44 WIB. Tinggi bulan pada saat matahari terbenam tanggal 18 Agustus 2012 (jam 18:13 WIB) adalah + 6°54’. Fraksi Illuminasi sabit bulan muda mencapai sekitar 1% (0.95%), usia sabit bulan mencapai 18 jam 58 menit. Pada kondisi tersebut semua kriteria yang ditetapkan oleh MABIMS telah terpenuhi, sehingga dengan demikian kriteria visibilitas hilal “imkanurrukyat” sebagai penentu awal bulan Syawal 1433 H telah visibel “wujud” sebesar + 6°54’ (lebih dari 2°) dengan umur bulan muda 18 jam 58 menit (lebih dari 8 jam) dari kriteria MABIMS. Maka sudah dapat dipastikan bahwa tanggal 1 Syawal 1433 H atau hari raya iedul fithri 1433 H akan jatuh pada hari Ahad tanggal 19 Agustus 2012, sehingga puasa Ramadhan bagi pengikut teori rukyat atau versi pemerintah akan berlangsung selama 29 hari.

Ketua Pengadilan Agama Tanjungpinang lebih lanjut menyatakan : Secara akademik bahwa bulan baru 1 Syawal 1433 H atau hari raya iedul fithri 1433 H, baik yang menggunakan teori hisab “wujudul hilal” atau yang menggunakan teori rukyat, akan jatuh secara berbarengan yaitu pada hari Ahad 19 Agustus 2012. Akan tetapi hal itupun harus menunggu sampai ditetapkan oleh pemerintah dalam sidang itsbat penetapan awal Syawal 1433 H yang akan dipimpin oleh Menteri Agama RI yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 18 Agustus 2012.

Dalam rukyatul hilal tersebut ufuk barat dimana matahari terbenam diselimuti awal tebal, sehingga pada waktu matahari terbenam hilal tidak dapat dilihat. Padahal secara akademik hilal sangat mungkin dilihat karena hilal akan terlihat atau berada diatas ufuk di kota Tanjungpinang selama lebih kurang 28 menit. Tetapi karena terhalang oleh mendung maka sampai hilal tenggelam di ufuk barat, hilal tidak dapat dilihat oleh para perukyat.Wallahu a’lam bisshawab.

{jcomments on}