Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Propinsi Kepulauan Riau mengadakan kegiatan Sosialisasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Perundangan Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) serta Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO). Kegiatan itu akan dilaksanakan di Kabupaten Bintan, tepatnya di Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan.

Ketua Pengadilan Agama Tanjungpinang, Drs. Nur Mujib, MH., sebagai narasumber Kegiatan Sosialisasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, di Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan

Kegiatan itu sendiri dilaksanakan pada hari Senin tanggal 1 Oktober 2012 bertempat di Ruang Pertemuan Kantor Camat Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan dan diikuti oleh sekitar 50 orang peserta. Peserta kegiatan terdiri dari unsur Aparat Kelurahan/Desa, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Organisasi Kepemudaan, Organisasi Perempuan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Ketua RW, Ketua RT serta ibu-ibu kader pembangunan (Posyandu, BKB, wirid/pengajian) dll.

Para peserta sosialisasi sedang serius mengikuti acara

Dalam kegiatan tersebut Ketua Pengadilan Agama Tanjungpinang, Drs. Nur Mujib, MH., bertindak sebagai salah satu narasumber, menyampaikan materi dengan topik : “Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) dalam Perundang-undangan Perkawinan dan Hukum Islam”.

Dalam paparannya, Drs. Nur Nujib, MH., antara lain menyampaikan : “KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.

Ketua PA Tanjungpinang, Drs. Nur Mujib, MH., sedang menyampaikan paparannya dengan topik “Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) Dalam Perundang-undangan Perkawinan dan Hukum Islam”.

Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembatu rumah tangga, tinggal di rumah ini. Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya, agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya.

Adapun bentuk kekerasan dalam rumah tangga antara lain :
a.    Kekerasan fisik. Perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat.
b.    Kekerasan psikis. Perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat .
c.    Kekerasan seksual. Pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual  dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial  dan/atau tujuan tertentu.
d.    Penelantaran rumah tangga, yaitu : Melalaikan kewajiban hukum/perjanjian dalam hal penghidupan, perawatan atau pemeliharaan dan Larangan untuk bekerja yang menyebabkan ketergantungan ekonomi.

Oleh karena itu agar kita selalu memperhatikan pasangan kita masing-masing, apakah pasangan kita itu berpotensi melakukan KDRT dalam bentuk :
1.    Suka bersikap kasar seperti menampar, memukul, menendang dan semacamnya.
2.    Suka mengucapkan kata-kata kasar dengan intonasi tinggi yang ditujukan pada anda, misalnya: “kamu tolol!”, “dimana otakmu” dll.
3.    Suka mengeluarkan kata-kata yang kejam dan tajam ketika menanggapi sesuatu, misal : “rasain biar mampus aja tuh orang!”.
4.    Memberikan banyak batasan, seperti tidak boleh pakai sepatu high heels karena takut pria lain bisa-bisa tergoda, tidak boleh keluar rumah tanpa didampingi dirinya, dan semacamnya.
5.    Sering cemburu buta.  Hal-hal yang sepele bisa membuatnya cemburu dan marah besar.
6.    Melakukan date rape atau pemerkosaan atas nama cinta. Anda dipaksa melayani dia sebelum sah menjadi suami-isteri.
7.    Bagaimana hubungan bapak dan ibunya di rumah?.
8.    Pernahkah melihat/ mengalami kekerasan di rumahnya? Konon 90% persen pelaku KDRT merupakan saksi atau korban dari kekerasan

Islam sebagaimana akar katanya “salima” berarti damai dan sejahtera, pada intinya mengajarkan pada pemeluknya untuk berlaku lemah lembut dan penuh kasih sayang, bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada mahluk yang lain, sehingga timbul kehidupan damai dan harmonis dimuka bumi ini.

Undang Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974, dalam pasal 33 menyatakan bahwa suami isteri wajib saling mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain. Kalau suami isteri saling melakukan KDRT antara satu dengan lainnya berarti sendi utama pernikahannya telah hancur. Karena suami isteri wajib saling mencinta, saling menghormat, dengan KDRT berarti rasa cinta, rasa hormat antara satu dengan lainnya sudah tidak ada lagi dan itu merupakan sendi yang terpenting dalam membangun pernikahan.

Dalam rangka menjaga jiwa dan menjaga keturunan terhadap perempuan dalam rumah tangga, kita telah mempunyai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Undang-Undang KDRT cukup representative, disaat KUHP tidak memadai lagi untuk mengcover realitas kekerasan yang terjadi di masyarakat, ditambah lagi banyak kekerasan yang tidak tertampung dalam KUHP, demikian juga sanksinya dinilai tidak sesuai dengan tuntutan dan rasa keadilan masyarakat.

Tujuan penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, sesuai pasal 4 adalah : a). Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga. b). Melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga. c). Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga. d). Memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan adil sejahtera.

Demikian semoga kekerasan bukan cara yang diambil dalam kita menyelesaikan masalah, tapi masih banyak jalan, beribu bahkan berjuta cara yang santun dan beradab, yang bisa kita daki, walaupun terjal, percayalah, selama ada kemauan. Tuhan pasti mendengar kita (amin). Wallahu a’lam bisshawab.

{jcomments on}