Dari kiri :  Drs.Bulgani (Panitera/Sekretaris), Drs.Moh Nur,MH.(KPA), Drs.Asfawi, MH.(WKPA).

Tembilahan | pa-tembilahan.go.id

Hari Selasa tanggal 02 oktober 2012 M. bertepatan dengan tanggal 16 zulqa’dah 1433 H. pukul 08.15 Wib. yang bertempat di rung sidang, Ketua Pengadilan Agama Tembilahan yang didampingi oleh Wakil Ketua dan Panitera/Sekretaris, mensosialisasikan hasil Lokakarya Mediasi kepada para hakim dan seluruh pegawai Pengadilan Agama Tembilahan.

Dalam paparannnya Ketua menyampaikan bahwa Mediasi sangat penting bukan hanya bagi para hakim tapi juga  bagi para pegawai. Karena prinsip dari Mediasi itu adalah mencarikan solusi perdamaian bagi kepentingan para pihak yang bersengketa, kalau ada masalah yang masuk ke Pengadilan Agama, maka sebagai Mediator adalah para hakim, tapi kalau di luar Pengadilan bisa saja  ulama, tokoh masyarakat atau yang kebetulan mungkin seseorang yang bekerja di Pengadilan Agama yang ketika itu sebagai anggota masyarakat biasa yang menjadi  Mediator.

Dari kiri barisan depan para hakim :  H. A. Nafi Muzaki,S.Ag., MH., M. Kamal Syarif, S.Ag., MH., Ahmad Najin, S.Ag., H. A. Mus’id Yahya Qadir, Lc., MH., Nongliasma S.Ag., MH., Nihayataul Istiqamah S.Ag., MH., Moch. Yuda Teguh Nogroho, S.HI., (Foto sebelah kanan dibelakang antara Nong dan Nihayah).

Berikut Ketua mengingatkan kembali Perma Nomor : 01 tahun 2008, siapa Mediator itu ?. Mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan  penyelesaian sengketa  tanpa mengunakan cara memutus atau  memaksakan  sebuah penyelesaian (pasal 1 ayat 6 Perma 01 tahnu 2018)

Kemudian  Mediasi  adalah cara penyelesaian  sengketa  melalui  proses perundingan  untuk memperoleh  kesepatakan  para pihak  dengan dibantu  oleh Mediator (pasal 1 ayat 7).

Dalam Pasal 15 Perma Nomor :  01 tahun 2008 sebagaimana yang dikutip oleh Prof. Dr. Takdir Rahmadi (Hakim Agung), menyebutkan, ada beberapa tugas Mediator yaitu 1. Mempersiapkan  jadwal pertemuan,  2. Mendorong para pihak  berperan langsung  dalam proses mediasi, 3. Menyelenggarakan kaukus ( pertemuan antara mediator dengan salah satu pihak  tanpa hadiri oleh pihak lain ) dan  4. Mendorong para pihak untuk melaksanakan  perundingan  berbasis kepentingan.  Disamping itu ada juga yang disebut  dengan Shuttle Mediation seperti yang diuraikan oleh  Simon Curran (Simon Curran adalah  pria kelahiran  Inggeris kemudian besar dan mengeyam pendidikan di Australia dan berpropisi sebagai lawyers serta  menjadi instruktur pada Lokakarya Mediasi). Shuttle Mediation artinya Mediasi bolak balik.

Ada beberapa tahapan mediasi yaitu :  a. Perkenalan diri Mediator pada para pihak, b. Perkenalan  para pihak/Kuasa hukum, c. Penjelasan Mediator tentang mediasi, d. Pernyataan Pembukaan  para pihak, e. Perumusan agenda/masalah yang dibahas dalam mediasi, f. Pembahasan masalah, g. Mencapai kesepakatam damai/mediasi atau gagal.

Simon Curran dalam lokakarya tersebut menyampaikan bahwa pendekatan yang efektif dalam  Mediasi adalah dengan pendekatan Kolaboratif  bukan  pendekatan  Adversarial (mencari siapa yang salah). Pendekatan Kolaboratif yaitu pendekatan yang berfokus ke masa depan, bukan masa lalu, berdasarkan nilai, bukan berdasarkan hak, menang/menang, bukan menang/kalah, pertimbangan kepentingan, bukan melihat posisi, eksplorator bukan mengurangi, mencari solusi bukan menyalahkan pihak lain.

Ketua juga menyampaikan bahwa ada hal yang sangat menarik dari persoalan mediasi, kalau dulu mediasi  baru dikatakan berhasil apabila sengketa  dalam perceraian berhasil didamaikan dan para pihak tidak jadi berecerai, akan tetapi sekarang tidak demikian , bahwa mediasi dikatakan  berhasil bukan saja terletak pada para pihak tidak jadi bercerai, walaupun para pihak bercerai tapi segala akibat yang terjadi  setelah  cerai seperti harta bersama, nafkah isteri, nafkah anak dan lainnya demi untuk kehidupan yang lebih baik dimasa depan  setelah bercerai dapat disepakati oleh kedua belah pihak, maka itu juga dikatakan sebagai mediasi yang berhasil. (Tim Redaksi).

{jcomments on}