PASIR LIMAU KAPAS : PESISIR  YANG MENANTI SENTUHAN LEMBUT PENGADILAN AGAMA UJUNGTANJUNG

Kondisi Objektif Kec. Pasir Limau Kapas  

Menjejakkan kaki di Rokan Hilir, Riau,terasa tak sempurna jika tak mendatangi Kecamatan Pasir Limau Kapas. Kecamatan ini menyimpan beraneka ragam kekayaan laut berserta aneka ragam hayati laut yang namanya tercatat sebagai penopang sebutan kota Bagansiapi-api sebagai penghasil ikan terbesar namun sebutan tersebut seakan memudar seiring dengan makin tergerusnya aneka hayati laut disebabkan berbagai faktor, bisa jadi faktor alam atau malah faktor yang timbul dari manusianya. di Kecamatan ini juga terletak Pulau Jemur salah satu jajaran pulau terluar dari beberapa pulau yang eksistensinya pernah diklaim oleh Malaysiasebagai wilayah mereka,di pulau ini berdiam penyu hijau dan aneka ragam ikan berukuran besar. Bahkan panipahan pernah menjadi tujuan utama para turis Malaysia dan Singapura sebagai ajang perjudian besar-besaran di masa lampau.

Penulis tidak ingin membawa pembaca hanyut dalam keindahan Pulau Jemur dan segala isinya dan tidak ingin menggiring pembaca untuk menikmati ikan-ikan panipahan yang mulai langka, dan mengenang daerah perjudian pada masa lampau, itu adalah sisi lain dari keberadaan Pasir Limau Kapas di masa lalu maupun masa kini, namun yang tak kalah pentingnya perspektif di atas sesungguhnya sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir, prilaku dan pemahaman masyarakat setempat tentang bagaimana mereka memperlakukan dirinya dan keluarganya dalam kancah pertukaran peradaban  masa kini apalagi Kecamatan ini berada di bibir pesisir yang jauh dari ibukota kabupaten namun secara geografis sangat dekat dengan propinsi Sumut di bagian Barat baik daratan maupun lautannya dan berbatas dengan lautan Malaysia sebelah Timur sehingga sangat strategis dan riskan terjadinya kejahatan ekonomi dan perdagangan seperti penyelundupan, dsb.

Kecamatan Pasir Limau Kapas merupakan salah satu dari 14 Kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Rokan Hilir, yang penduduknya terdiri dari mayoritas beragama Islam,selebihnya Budha dan Kristen. Kecamatan Pasir Limau Kapas merupakan salah satu Kecamatan yang berada di wilayah pesisir yang terdiri dari 6 kepenghuluan/desa.

Asimilasi dan pecampuran budaya sebagaimana yang pernah penulis ungkapkan dalam perjalanan sidang keliling di Kecamatan Simpang Kanan juga berlaku di Panipahan, namun Panipahan lebih spesifik terasa sangat unik sekali lagi karena budaya lokal yakni melayu panipahan dan budaya luar, melayu tanjung balai asahan, melayu pesisir  Labuhan Batu Sumut, Mandailing dan Batak (tercatat bahwa panipahan berbatasan langsung dengan daratan Kec Panai Tengah Kab Labuhan Batu berjarak sekitar 2 km ) serta ditambah lagi budaya Cina yang sudah lama mendiami daerah ini sangat mewarnai dan memperkaya kecamatan ini menjadi kecamatan yang pluralistikdan dinamis.

Untuk menjangkau daerah ini apabila kita beranjak dari Ujungtanjung dibutuhkan waktu lebih kurang 1 ½ jam menuju Kota Bagansiapi-api menggunakan mobil, dari kota ini kita akan beranjak melalui jalur laut dengan menggunakan kapal speed dengan jarak tempuh paling cepat 1 jam kita sudah bisa mendarat di pelabuhan kecil panipahan, namun transportasi laut rute Bagansiapi-api-Panipahan hanya 1 kali dalam satu hari, sehingga apabila kita mengunjungi panipahan mau tak mau harus menginap terlebih dahulu karena kapal rute Bagansiapi-api baru berangkat lagi esok pagi, perhitungan ini diperkirakan jika cuaca tidak buruk atau gelombang, kalau kondisi ini terjadi bisa memakan waktu lebih lamaatau malah tidak bisa berangkat.

Sementara jarak antara Ibukota Kecamatan dengan desa-desa lainnya juga sangat jauh sebagai contoh jarak antara Sungai Daun dan ibukota Kecamatan Panipahan bisa memakan waktu lebih kurang 1 jam sedangkan alat transportasi umum tidak ada samasekali kecuali ojeg,   bayangkan bagaimana para pencari keadilan menempuh perjalanan ini apabila sidang keliling tidak diadakan,. bisa memakan waktu lama dan harus menginap terlebih dahulu di bagansiap-api baru bisa menempuh perjalanan darat ke Ujungtanjung dan berapa banyak pula dana yang akan mereka habiskan hanya untuk mencari keadilan.

Kondisi perekonomian masyarakat Pasir Limau Kapas, termasuk golongan menengah kebawah, mayoritas penduduknya bekerja sebagai Nelayan atau sebagian kecil petani bagi penduduk pribumi sedangkan bagi pendatangsebagian besar pedagang dan pengusaha. Karena letak kecamatan ini sangat dekat dengan propinsi tetangga yakni Sumut maka Panipahan menjadi tempat bertemunya beberapa etnis dan budaya antara budaya lokal dan budaya pendatang sehingga dinamika pergaulan dan ekonomi masyarakatnya relatif dinamis. Hasil tangkapan ikan atau perkebunan bisa dipasarkan ke Propinsi Sumut karena jalan menuju propinsi ini lebih mudah diakses, sedangkan jalan menuju Bagansiapi-api atau wilayah di propinsi Riau relatif sulit diakses disebabkan infrastruktur masih dalam pembangunan.

Akibat dari pertukaran dan asimilasi beberapa budaya dan pengalaman tersebut serta tingkat perekonomian yang relatif fluktuatif masyarakat sering dihadapkan pada berbagai problema kemasyarakatan, seperti masyarakat tidak mempunyai pendidikan yang tinggi, pelayanan kesehatan yang yang kurang memadai dan pemahaman hukum yang sangat minim, KUA adalah sentral tempat pengaduan bagi para pencari keadilanyang beragama Islam.

Sebagaimana yang dilaporkan oleh kepala KUA Bapak Sugeng, S.Ag, masyarakat terkadang tidak tahu kemana seharusnya mereka mengadukan persoalan rumah tangga mereka sedangkan pusat ibukota kabupaten sangat jauh sehingga mereka akhirnya mengadukan persoalan rumah tangga mereka ke KUA,  mereka berasumsi KUA adalah tempat segalanya bagi mereka untuk menyelesaikan persoalan hukum, bukan saja masalah pernikahan tapi juga problema hukum yang rumit sekalipun.  Mereka belum mengenal betul apa itu Pengadilan Agama bagi mereka KUA dan Pengadilan Agama istilah yang tiada berbeda,dan banyak persoalan kesadaran hukum lainnya yang masih tersumbat.

Sidang keliling periode IV

Ketika kaki sampai di pelabuhan panipahan mengingatkan kita akan kata-kata bijak “Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memiliki waktu tidak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan”.

Sidang keliling pada periode keempat ini tepatnya di Kec Pasir Limau Kapas atau lebih dikenal dengan sebutan panipahan ini terasa sangat istimewa, kenapa istimewa karena Ketua Majelisnya adalah Ketua PA Ujungtanjung yang baru saja dilantik beberapa bulan yang lalu yakni Drs. H. Affandi (sebelumnya Ketua PA Tarempa) artinya sidang keliling kali ini merupakan debut perdana bagi beliau sekaligus perkenalan dengan jajaran KUA Kec. Pasir Limau Kapas (disingkat Palika) beserta dengan masyarakatnya.

Namun pengalaman menghadapi  pesisir timur dan mengharungi lautan selat melaka bukanlah pengalaman baru bagi beliau justru ini tantangan yang biasa karena beliau tak lain adalah berasal dari Pengadilan Agama dari jajaran kep Riau, yang sudah biasa diayun oleh gelombang laut cina selatan. Namun tetap saja istimewa walaupun sama sama menghadapi pesisir dan lautan namun kultur dan milieu kedua tempat ini pastilah berbeda satu sama lainnya sesuatu yang bisa jadi bahan komparasi empiris.

Barangkali  bagi salah satu pegawai atau panitera pengganti yang juga ikut dalam tim sidang keliling ini hal diatas bisa jadi pengalaman baru dan pertama bagi Amirrizal, SH.I karena selama ini  belum pernah ikut terlibat dalam beberapa kali program sidang keliling, PA Ujungtanjung selama ini memang memberikan kesempatan dan giliran bagi para panitera penggantinya untuk ikut dalam tim sidang keliling dan kesempatan ini dimanfaatkan secara sungguh-sungguh dan semangat untuk mendampingi majelis Hakim yang bersidang. Namun pengalaman di atas bukanlah pengalaman baru bagi Wapan PA Ujungtanjung (Dra. Safrida) karena ini adalah pengalaman yang kesekian kalinya demikian juga dengan dua orang hakim lainnya yakni Drs. Zaenal Mutakin dan Amrin salim, S.Ag, MA periode ini kesempatan yang kesekian kalinya namun bagi dua hakim ini bisa disebut sidang keliling terakhir di Ujungtanjung karena tak berapa lama lagi keduanya akan dimutasikan ke tempat yang baru dan berbeda yakni di Lampung dan Aceh. Semuga bisa jadi kenangan dan pengalaman buat beliau berdua sebagaikhazanah historikal di tempat yang baru nantinya.

Jumlah perkara yang disidangkan terdiri dari 6 perkara yakni perkara cerai gugat dan  cerai talak serta dispensasi nikah.Meskipun jumlah perkara hanya 6 perkara saja, akan tetapi dalam pelaksanaannya cukup menyita waktu,dimulai pukul 09.00 dan selesai pukul 16.00 WIB karena harus menunggu para pihak datang ke ibukota Kecamatan yang ditempuh dalam waktu yang lamadan menyulitkan. Namun demikian, seperti terlihat dalam foto terlampir para hakim (Drs.H.Affandi, Amrin Salim, S.Ag.MA, Drs. Zaenal Mutakin) panitera pengganti (Dra. Safrida dan Amirrizal, S.HI), tetap tersenyum dan bersemangat dalam melaksanakan tugas mulia ini dalam rangka memberikan kemudahan dan pelayanan publik yang prima kepada masyarakat. Alhasil pelaksanaan sidang keliling periode ke-IV pada tahun 2012 ini sukses dan lancar tidak ada halangan yang berarti.

Sebelum menutup bagian ini, pada malam harinya ada satu kejadian lucu ketika ingin bersantap malam Tim Sidang Keliling sudah bersiap untuk menyantap ikan laut bakar (baca: Ikan Batu) dan merasa yakin bahwa menu ikan laut bakar yang masih segar ini relatif bisa dijangkau dengan harga yang murah meriah namun apa mau dikata kenyataannya ketika akan dibayar jauh panggang dari api harga ikan ternyata melebihi budget yang disediakan, pengalaman lucu yang menyenangkan.

Signifikansi Sidang Keliling di Daerah Pesisir

Program Badan Peradilan Agama Justice for All khususnya bantuan hukum kepada masyarakat melalui sidang keliling berdasarkan kondisi objektif di wilayah Kecamatan Pasir Limau Kapas di atas nampaknya masih sangat perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan pelayanannya di wilayah yurisdiksi Pengadilan Agama Ujungtanjung. Karena selain Kecamatan Panipahan masih ada daerah lain yang menunggu giliran untuk dilayani seperti Kecamatan Kubu diwilayah pesisir Rokan Hilir serta Kecamatan Pujud yang masih belum dirintis yang tingkat kesulitan dan pemahaman masyarakatnya  berbeda-beda apalagi tidak lama lagi Pengadilan Agama Ujungtanjung akan pindah kantor ke pusat kota Bagansiapi-api, akibatnya jarak kecamatan Bagan Sinembah, Kubu, Pujud, Simpang akan semakin jauh.

Dengan diadakannya Sidang Keliling, disamping sangat signifikan dalam rangka meningkatkan pelayanan prima dan cepat serta mudah kepada masyarakat, ada satu hal yang juga sangat signifikan berdampak positif terhadap masyarakat terisolir atau terpencil yakni membangkitkan ‘gairah’ kesadaran hukum masyarakat yang merupakan salah satu pilar atau unsur penegakan hukum (law enforcement)

Dengan demikian, masyarakat  semakin mengenal profil Pengadilan Agama, karena, disamping masyarakat bisa menemukan lembaga yang bisa menyalurkan hak-hak hukum  mereka, tempat mencari keadilan dalam hukum keluarga, mereka juga mendapatkan informasi penting tentang tugas dan fungsi peradilan agama sebagai  alat rekayasa social ( a tool of social engineering ) sehingga dapat mengurangi penyimpangan-penyimpangan serta  penyelundupan  hukum    di masyarakat. dan pada akhirnya apabila masyarakat sudah mengenal Pengadilan Agama maka suatu waktu mereka akan secara sadar datang ke Pengadilan Agama meskipun program sidang keliling tidak diterapkan lagi.

Sebagai penutup, penulis ingin merekomendasikan, pertama,bahwa kepada pemerintah daerah Rokan Hilir supaya bisa menambah armada kapal speed karena pada pelaksanaan sidang kali ini Tim Sidang Keliling harus berebut tiket dengan jamaah calon haji sehingga hampir saja kehabisan tiket dan akibatnya nyaris tidak bisa pulang, nyaris harus menginap lagi, nyaris keluar biaya tidak terduga ;kedua,Pemerintah Daerah Rokan Hilir harus sering-sering turun ke lapangan melihat fenomena sosial dan menurunkan tim penyuluhan hukum secara berkala, Pengadilan Agama Ujungtanjung siap membantu menjadi narasumber, ketiga, Badan Peradilan Agama perlu meningkatkan biaya sidang keliling dengan segala atributnya dan Last but not least,  kita berharap bahwa apa yang kita laksanakan, kita terapkan dalam masyarakat menjadi sebuah pengetahuan yang berharga dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa dan berharap perjalanan singkat ini bisa dijadikan pengalaman bagi para aparat peradilan dan juga sekaligus sebagai amal salih yang diganjar pahala, Aamiin, Semoga…!!!

Ditulis Oleh : Amrin Salim, S.Ag,M.A (Hakim Pengadilan Agama Ujungtanjung) dan Amirrizal, SH.I (Panitera Pengganti Pengadilan Agama Ujungtanjung)

{jcomments on}