Sehubungan dengan datangnya hari raya Iedul Adha 1433 Hijriyah yang jatuh pada hari Jum’at tanggal 10 Dzulhijah 1433 H bertepatan dengan tanggal 26 Oktober 21012 Masehi, Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Tanjungpinang, menunjuk Ketua PA Tanjungpinang, Drs. Nur Mujib, MH., untuk bertindak sebagai Khatib pada shalat Iedul Adha di Lapangan Pamedan A. Yani Tanjungpinang.

Shalat Iedul Adha sendiri diikuti ribuan jamaah ummmat Islam Kota Tanjungpinang yang dimulai pada jam 07.15 WIB dan selesai pada jam 08.00 WIB. Ketua PA Tanjungpinang, Drs. Nur Mujib, MH., dalam khutbahnya mengambil tema “DENGAN IEDUL QURBAN KITA GALANG SEMANGAT PERSATUAN DAN KESATUAN”.

Dalam khutbahnya Drs. Nur Mujib, MH., antara lain menyampaikan bahwa Pengorbanan Ibrahim dan keluarganya menjadi cermin keteladanan bagi ummat Muhammad, bahwa untuk mencapai cita-cita dan kebahagiaan, dibutuhkan pengorbanan. Islam sangat menentang sikap hidup pragmatis dan mengambil jalan pintas. Pengorbanan yang dilandasi iman dan ketulusan, akan mendapat balasan sorga dari Allah. 

Ketua PA Tanjungpinang, Drs. Nur Mujib, MH., ketika menyampaikan khutbah Iedul Adha 1433 H di Lapangan Pamedan A. Yani Tanjungpinang, Jum’at 26-10-2012

Ibadah qurban, yang berwujud penyembelihan binatang qurban, yang akan kita laksanakan setelah ini, merupakan perlambang ketaatan hamba kepada Allah. Namun bukan semata-mata darah dan daging qurban yang menjadikan qurban bernilai dihadapan Allah, akan tetapi adalah kadar taqwa hamba yang berkurban.

Di tanah suci Makkah sebagai tempat berlangsungnya peristiwa itu, kini sedang berkumpul berjuta-juta manusia dalam rangka menunaikan ibadah haji. Sejak ihram mereka melepaskan baju dan atributnya masing-masing, lalu memakai pakaian yang sama yaitu dua lembar kain putih. Peristiwa itu sesungguhnya memberikan gambaran bahwa Islam itu satu, bahwa ummat Islam adalah “ummatan wahidah”. Bangsa boleh berbeda, pikiran boleh tidak sejalan, aspirasi politik boleh beragam, namun ketika kita bawa kepada terminologi Islam, ummat Islam adalah satu keluarga. Ummat Islam adalah satu kesatuan, tidak terpisah.

PHBI sedang memberikan pengarahan kepada jamaah shalat Iedul Adha 1433 H

 

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa ummat Islam di negeri ini adalah ummat mayoritas dan terdiri dari berbagai hegemoni struktur dan sosial. Dan sudah barang tentu berbagai kepentingan di negeri ini akan selalu memerlukan partisipasi ummat Islam dalam berbagai dimensinya. Oleh karena itu perbedaan yang ada pada ummat Islam sebenarnya akan selalu melahirkan kekuatan yang sinergis manakala kita mampu mengadopsinya dengan sebaik mungkin. Sebagaimana hal ini pernah terjadi pada permulaan terbentuknya pemerintahan kota Madinah. Nabi SAW dalam membangun masyarakat Madinah tidak memberangus ikatan ikatan primordial sosial. Bendera Anshor dibiarkan tetap berkibar, demikian pula bendera Muhajirin tetap tegak, kesemuanya menjadi satu kekuatan Islam yang dahsyat.

Kita dapat melihat bahwa ummat Islam dengan keragamannya itu, dibawah panduan Nabi Muhammad SAW berhasil menyelesaikan agenda besar misi Ilahiyah, yaitu menyebarkan dakwah Islam dengan sebaik-baiknya, sehingga dalam waktu yang relatif singkat, semenanjung Saudi Arabia berada dalam kekuasaan Islam dan menjadi pusat peradaban dunia. Untuk itu, sekali lagi, mari kita galang persatuan dan kesatuan ummat Islam. Jangan sampai di kalangan ummat Islam terjadi perpecahan yang akan mengakibatkan stabilitas negeri ini, menjadi rapuh.

Pentingnya persatuan dan kesatuan ummat Islam terus dijaga dan dipelihara dalam rangka dua hal ; pertama, untuk menjaga kewibawaan dan membentengi Islam dari upaya destruktif dari luar Islam dan kedua, untuk menegaskan cita-cita luhur Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, menyebarkan kedamaian, keadilan dan keharmonisan di alam ini.

{jcomments on}