Tembilahan | pa-tembilahan.go.id

Jum’at pagi tanggal 26 Oktober 2012 M. bersamaan dengan tanggal 10 Zulkhijjah 1433 H. bertempat di lapangan Gajah Mada Tembilahan. Ketua Pengadilan Agama Tembilahan (Drs. Moh. Nur, MH.) diminta oleh PHBI. Kabupaten Indragiri Hilir untuk menjadi Khatib pada shalat Idul Adha 1433 H. Sedangkan Imam dipimpin oleh H. Zayadi dan bilal adalah Maryono S.Ag.  dari PHBI. Serta H. Harun, S.Ag. sebagai MC. Dari Kementrian Agama Kabupaten Indragiri Hilir.

Pelaksanaan ibadah shalat Idul Adha  tersebut di hadiri oleh Bupati Indragiri Hilir (Dr. H. Indra Mukhlis Adnan, SH., MH., MM. beserta isteri), Wakil Bupati (H. Rosman Malomo, SH., MH. beserta isteri), Ketua DPRD (H. Raus Walid, S.Sos. beserta isteri), Sekretaris Daerah (H. Alimudin, SH. beserta isteri), Unsur Muspida, Kepala Dinas Intansi di Wilayah Kab. Inhil serta puluhan ribu jemaah lainnya yang ikut serta dalam pelaksaan ibadah tersebut.

 

Ketua Pengadilan Agama Tembilahan dalam paparan Khutbahnya yang berjudul “Dengan ibadah Qur’ban kita Tingkatkan Solidaritas dan Persatuan”. Yang menguraikan sekitar peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim As. Nabi Ismail As. dan Siti Hajar. Perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia. Pergulatan hidup yang keras, penuh dengan dinamika serta sumber insfirasi yang penuh dengan nilai spiritual. Perjanan hidupnya menjadi setting sejarah yang patut menjadi pelajaran yang berharga. Begitu besar dan pentingnya pristiwa pengorbanan tiga orang hamba Allah tersebut, sehingga diabadikan dalam Al-Qur’an  dan telah disyariatkan  dalam ibadah haji, shalat ‘Id dan Ibadah Qurban bagi umat Muhammmad SAW.

Disamping itu ketua juga menyinggung masalah persatuan yang menguraikan bahwa umat Islam  di Negeri ini adalah umat mayoritas dan terdiri berbagai hegemoni struktur dan soisial. Dan sudah barang tentu  bebagai kepentingan di Negeri ini  akan selalu memerlukan  partisipasi  umat Islam dalam berbagai demensianya. Oleh karena itu kata ketua perbedaan  yang ada  pada umat Islam sebenarnya akan selalu melahirkan kekuatan yang senergis manakala kita mampu mengadopsinya dengan sebaik mungkin. Sebagaimana pada permulaan terbentuknya masyarakat Madinah.

Nabi Muhammmad SAW. dalam membangun masyarakat Madinah tidak memberangus ikatan primordial sosial. Bendera Anshor dibiarkan tetap berkibar, demikian pula bendera Muhajirin tetap tegak, kesemuanya menjadi satu kekuatan Islam yang dahsyat. Untuk itu, sekali lagi, mari kita galang solidaritas dan kesatuan ummat. Jangan sampai di kalangan ummat Islam terjadi perpecahan yang akan mengakibatkan stabilitas negeri ini menjadi rapuh.

Pentingnya solidaritas dan kesatuan ummat Islam terus dijaga dan dipelihara dalam rangka dua hal ; pertama, untuk menjaga kewibawaan dan membentengi Islam dari upaya destruktif dari luar Islam dan kedua, untuk menegaskan cita-cita luhur Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, menyebarkan kedamaian, keadilan dan keharmonisan di alam ini.

Sebagai seorang muslim, kita sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Ketidak sempurnaan manusia itu sering membawa kepada perbedaan, oleh karenanya, marilah kita beristighfar mohon ampun kepada Allah, kemudian kita tata kembali yang berpencar, kita ingatkan yang alpa, kita luruskan yang bengkok, kita tambal yang berlubang, kita agungkan kebesaran hari raya ini dengan kalimah takbir, tahmid dan tahlil, untuk menuju kepada Solitaritas dan Persatuan Ummat. (Tim Redaksi)

{jcomments on}