\\192.168.222.240\data\KESEKRETARIATAN\Laela Mubarokah,S.Ag\KEGITAN JUMAT PA PEKANBARU\DinsosMC_Sultan_Syarif_Kasim_II-a.jpg

Oleh  ; Laela Mubarokah, S.Ag

Penata Layanan Operasional

PA Pekanbaru 

 

  1. PENDAHULUAN 

Pada tanggal 10 November kita negara Kesatuan Republik Indonesia memperingati Hari Bersejarah yaitu Hari Pahlawan . Hari ini, di bawah langit Indonesia yang merdeka, kita menundukkan kepala penuh hormat mengenang para pahlawan bangsa. Mereka bukan sekadar nama yang terukir di batu nisan, melainkan cahaya yang menerangi jalan kita hingga hari ini. Dari Surabaya hingga Banda Aceh, dari Ambarawa hingga Biak, mereka berjuang bukan demi dirinya sendiri, tetapi demi masa depan bangsa yang bahkan belum mereka kenal, yaitu kita semua yang berdiri di sini hari ini. 

 

Para Pahlawan mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Kemerdekaan lahir dari kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan. Karenanya, ada tiga hal yang dapat kita teladani dari para pahlawan bangsa: Pertama, Kesabaran Para Pahlawan. Mereka sabar menempuh ilmu, sabar menyusun strategi, sabar menunggu momentum, dan sabar membangun kebersamaan di tengah segala keterbatasan. Mereka tetap bersabar meski menghadapi perbedaan pandangan dan jalan perjuangan. Dari kesabaran itulah lahir kemenangan, karena mereka tahu bahwa kemerdekaan tidak diraih dengan tergesa-gesa, tetapi ditempa oleh waktu dan keikhlasan. Kedua, Semangat Untuk Mengutamakan Kepentingan Bangsa Di Atas Segalanya. Setelah kemerdekaan diraih, para pahlawan tidak berebut jabatan, tidak menuntut balasan, tidak mengincar apa yang ditinggalkan penjajah. Mereka justru kembali ke rakyat, mengajar, membangun, menanam, dan melanjutkan pengabdian. 3 Di situlah letak kehormatan sejati: bukan pada posisi yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang ditinggalkan. Ketiga, Pandangan Jauh Ke Depan. Para pahlawan berjuang untuk generasi yang akan datang, untuk kemakmuran bangsa yang mereka cintai. Dan menjadikan perjuangan ini sebagai bagian dari ibadah, darah dan air mata mereka adalah doa yang tak pernah padam. Menyerah berarti meninggalkan amanah kemanusiaan. 

Inilah Amanat Menteri Sosial Dalam Rangka Peringatan Hari Pahlawan Senin, 10 November 2025 yang dibacakan oleh Pembina Upacara Hari Pahlawan di setiap Instansi dan lembaga yang ada di seluruh Indonesia, yang bertema Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan. Dalam kesempatan ini Penulis mengajak semua untuk mengenal pahlawan nasional Riau Sultan Syarif Kasim II.

  1. PEMBAHASAN 

  1. Biografi Singkat 

Sultan Syarif Kasim II adalah pahlawan nasional Riau yang dikenal karena nasionalismenya yang kuat, yang dibuktikan dengan dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia. Ia adalah sultan ke-12 Kerajaan Siak Sri Indrapura yang menyumbangkan harta kekayaan pribadinya untuk membantu pemerintahan Indonesia yang baru merdeka, seperti sumbangan 13 juta gulden, dan juga menolak kerja paksa atau romusha. Jasa-jasanya membuat pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1998. 

Lahir: 1 Desember 1893 di Siak Sri Indrapura, Riau.Pendidikan: Mengikuti pendidikan di sekolah Belanda di Betawi untuk mempelajari politik dan pemerintahan Belanda agar dapat melawannya.Sultan Siak: Menjadi sultan ke-12 Kerajaan Siak Sri Indrapura setelah ayahnya wafat.Perlawanan terhadap Belanda: Melawan Belanda dan menolak kerja paksa (romusha).Dukungan untuk Indonesia: Setelah proklamasi kemerdekaan, ia mengirim telegram kepada Soekarno-Hatta untuk menyatakan dukungan Siak terhadap Republik Indonesia.Sumbangan Harta: Menyumbangkan kekayaan pribadi sebesar 13 juta gulden dan 30% emas lagi pada tahun 1949 untuk membantu pemerintahan Republik Indonesia yang baru berdiri.Pendidikan Rakyat: Memperhatikan kesejahteraan rakyat dengan menyediakan fasilitas pendidikan, seperti HIS (Hollandsch Inlandsche School) dan perahu penyeberangan gratis.Bergabung dengan Perjuangan: Turut berjuang ke Medan dan Aceh saat terjadi revolusi sosial tahun 1946, serta membantu menyuplai bahan makanan untuk para laskar.Wafat: 23 April 1968 di Rumbai, Pekanbaru, Riau dan dimakamkan di kompleks Masjid Syahabuddin di Siak Sri Indrapura.Gelar: Diberi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada 6 November 1998 berdasarkan Kepres No. 109/TK/1998.Penghargaan: Dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana.Pengabadian Nama: Namanya kini diabadikan menjadi nama bandar udara internasional di Pekanbaru, Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II

 

  1. Perjuangan Dan Keteladanan 

Adalah Raja Negeri Melayu Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin, atau lebih dikenal sebagai Sultan Syarif Kasim II, tercatat dalam sejarah negara ini, sebagai penyumbang terbesar di awal kemerdekaan Indonesia.Sultan Siak Sri Indrapura (sekarang Kabupaten Siak Sri Indrapura) yang mangkat April 1968, dalam usia 60 tahun, adalah Sultan ke-12. Ia dinobatkan sebagai Sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, tak lama setelah proklamasi.

Dalam catatan Pemerintah Kabupaten Siak yang diajarkan sejak Sekolah Dasar, sebagai muatan lokal,  sumbangan itu tidak hanya keris, mahkota kerajaan yang terbuat dari emas dan bertabur intan berlian, Sultan Siak juga menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden (sekarang sekitar Rp1,074 triliun) untuk pemerintah republik Indonesia. Selain itu, bersama Sultan Serdang, dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatra (termasuk Kesultanan Melayu Indragiri) untuk bergabung dengan NKRI. Namanya kini diabadikan untuk Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II dan Universitas Islam Negeri (UIN) di Pekanbaru.

Tak sampai di situ, Sultan juga menyerahkan wilayah kerajaannya, sepanjang  Sumatera Timur, meliputi Melayu Deli, Serdang, Bedagai, Riau dan Kepulauan Riau (Kepri) saat ini. Bahkan Istana Hasiriyah Hasemmiyah, peninggalan nenek moyangnya, diberikan untuk Pemerintah RI. Setelah itu, dia menjadi warga negara biasa. "Tak ada pengorbanan raja-raja di Nusantara sebesar sumbangan yang diberikan Sultan Siak. Baik di Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan lainnya," kata mantan Bupati Siak, H. Syamsuar, beberapa waktu lalu.Syarif Kasim II juga menyerahkan tanah dan wilayah kekuasannya. Kekayaannya dari zaman Belanda berupa ekplorasi minyak dan gas (Migas), dengan kualitas terbaik, dikelola oleh negara dari ladang Minas, Siak dan Zamrud. Sumbangan dari perut bumi Riau berupa Migas itulah  sejak Indonesia merdeka hingga sekarang, ikut menghidupi negara bernama Indonesia ini.

Jika dibandingkan dengan kesultanan lainnya di tanah air,  sumbangan Sultan Siak itu memang dahsyat. Raja Jawa Hamengku Buwono IX dari Yogyakarta misalnya, dalam sejarah mensedekahkan sebanyak 6,5 juta Gulden Belanda bagi modal perjuangan kemerdekaan. Tapi Sultan Yogya tidak menyerahkan tanah dan wilayah kekuasaannya. Bahkan beliau sempat pula menginyam sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Beda dengan Sultan Syarif Kasim II yang tak tinggal di istana lagi, setelah penyerahan kedaulatan. Dia mukim di kampungnya, seperti rakyat biasa lainnya.Menurut Syamsuar, yang kini sudah menjadi Gubernur Riau, Sultan Syarif Kasim II juga seorang pejuang bagi warga Riau. Dia berjuang hingga ke Aceh.  Sultan tergabung dalam Resimen Rencong Aceh, dengan pangkat terakhir kolonel. "Sultan juga dengan kesadarannya, begitu Idonesia memproklamirkan kemerdekaan, menaikkan bendera merah putih yang dijahit permaisuri, istrinya Sultanah Latifah, di halaman Istana Siak," kata Syamsuar.

Ditambahkan, saat berjuang ke Aceh, Sultan Syarif Kasim II  ikut menyumbangkan hartanya untuk membeli sebuah pesawat yang diberi nama "Seulawah". Sultan yang lahir tahun 1908 ini, oleh Pemerintah RI, kemudian dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional.Sebenarnya, sumbangan terbesar Sultan Melayu ini, bukanlah uang 13 juta gulden, mahkota atau keris itu. Tapi adalah tanah yang mengandung minyak. Dari area Minas dihasilkan minyak berkualitas tinggi, Sumatran Light Sweet Crude Oil. Penemu ladang minyak Minas adalah Richard H Hopper. Dia menggaet PT Caltex Pacivic Indonesia (CPI) sebagai kontraktor. Pemerintah Indonesia yang mengelola aset-aset milik Riau di industri hulu itu, mengoperasikan semua blok migas,  berdasarkan kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC) dengan PT California Texas (Caltex). 
   
Dalam catatan Richard H Hopper, Mei 1973, Caltex mencatatkan produksi puncak 1 juta barel per hari. Sejak pertama kali berproduksi pada awal 1950-an, lapangan-lapangan migas di Riau yang dikelola PT CPI telah memberikan kontribusi terhadap produksi nasional lebih dari 12 miliar barel secara kumulatif, di antaranya bersumber dari lapangan minyak raksasa Minas.Hopper menulis, industri "emas hitam" telah mengubah perekonomian Indonesia dan Riau seperti sekarang. Dan, produksi itu masih berjalan hingga kini. Tapi dia lupa menyebut, bahwa lahan dimana tempat minyak-minyak itu bersembunyi, adalah tanah-tanah milik Sultan Syarif Kasim II atau peninggalan Kesultanan Melayu yang dihibahkan kepada Pemerintah RI dengan sukarela.

Kalau dihitung dengan kasat mata, mungkin sumbangan tanah dan migas yang diberikan orang Melayu ke negeri ini, jumlahnya sejak tahun 1950-an sudah jutaan triliyun rupiah. Angka yang sangat fantastis dan luar biasa. Orang Melayu tahu itu. Karena mereka selalu mencatatnya. Belum lagi sumbangan Kesultanan Melayu Indragiri yang menyerahkan tanah mereka untuk produksi minyak PT Stanvac Indonesia (PTSI) sejak 1955-an.Kini, tanah Melayu sedang bergolak di Rempang, Galang dan Bulang, Kepri. Mereka diminta angkat kaki dari kampung mereka dengan alasan investasi. Rakyat tentu saja menolak. Karena sudah ratusan tahun, nenek moyang mereka tinggal dan berjuang menegakkan bendera Melayu dari penjajahan Portugis, Inggris dan Belanda di sana.

 

Rakyat berontak, Mereka bersikukuh tak mau pindah. Akibatnya, mereka diintimidasi, diserang dengan gas airmata dan diinjak-injak ketika melakukan perlawanan. Bahkan yang lebih dahsyat, mereka dianggap anti NKRI, menghalangi pembangunan, melanggar undang-undang dan sebagainya. "Kelompok pengganas" yang tega pada  rakyat Rempang itu, seketika menjadi lupa akan catatan sejarah orang Melayu. Karena, ketika Indonesia merdeka tahun 1945, sultan-sultan mereka yang masih berdaulat, dengan sadar menyerahkan kerajaannya untuk bergabung, menjadi NKRI, menjadi Indonesia. Jasa baik Sultan Melayu itu, mungkin belum terbalas hingga kini. Tapi lihatlah, sebahagian anak cucunya saat ini dirundung derita.

Budayawan Riau, Alhaj Aris Abeba, kepada wartawan mempertanyakan tindakan para investor di Rempang itu. "Kurang cukupkah sumbangan sultan-sultan Melayu ke negara ini. Para Sultan yang merelakan hartanya, tanahnya, istananya bahkan jiwanya. Begitu teganya mereka pada puak Melayu," tanya Aris dalam satu diskusi mengenai Rempang.Aris menyebut; jika adab sudah hilang, semua bisa sewenang-wenang. Jika nafsu didahulukan, adab jadi mainan. "Mereka tidak beradab dan beradat. Kekayaan Melayu dinikmati, tapi tak ada rasa terima kasih. Kekayaan alam diluru, tapi tak ada rasa malu," tegasnya. Begitulah! Bagi orang Melayu, budi adalah rasa dan jasa, yang tak bisa dibayar dengan apapun. Budi baik yang ditanam akan diingat sampai mati. Bak kata pantun Melayu; Pisang emas bawa berlayar/masak sebiji di dalam peti. Utang emas bisa dibayar/utang budi dibawa mati. Takkan lari gunung dikejar/makin hari bertambah tinggi. Utang emas bisa dibayar/utang rasa bernama budi. 

Kiprahnya mencolok dalam perjuangan kemerdekaan. Sultan Syarif Kasim II dikenal nasionalis, mendirikan sekolah untuk mencerdaskan rakyat Siak dan memberikan beasiswa ke Medan serta Batavia. Ia menjalin hubungan baik dengan Belanda tapi tetap perjuangkan kepentingan rakyat, menjadikan Siak ancaman bagi kolonialisme. Pasca-Proklamasi 1945, ia segera nyatakan Kesultanan Siak bergabung dengan NKRI, sumbang harta kekayaan 13 juta gulden (setara €69 juta pada 2011) untuk republik. Bersama Sultan Serdang, ia bujuk raja-raja Sumatra Timur dukung Indonesia, perkuat persatuan bangsa.Pada 6 November 1998, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 109/TK/1998 beserta Bintang Mahaputra Adipradana. Wafatnya di Rumbai, Pekanbaru, pada 23 April 1968 usia 74 tahun, meninggalkan warisan besar: Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, UIN SUSKA, dan Istana Siak sebagai simbol patriotisme Melayu. Ia teladan taat beribadah, dicintai rakyat, dan pejuang gigih lawan penjajahan, perkuat NKRI di Riau.

 

  1. KESIMPULAN 

Dari narasi diatas dapat disimpulakan bahwa Kontribusi Sultan Syarif Kasim II terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia sangat signifikan:

  1. Penggabungan ke Republik: Tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II segera menyatakan bahwa Kesultanan Siak adalah bagian dari wilayah Republik Indonesia dan mengibarkan bendera Merah Putih di Istana Siak.

  2. Sumbangan Harta: Beliau menyumbangkan seluruh harta kekayaannya kepada pemerintah republik yang baru berdiri, senilai 13 juta gulden (setara dengan miliaran rupiah saat ini), untuk membantu perjuangan.

  3. Dukungan Politik dan Militer: Sultan aktif menyuplai bahan makanan, membantu mendirikan Komite Nasional Indonesia (KNI) dan Badan Pertahanan Rakyat (BPR) di Siak, serta membujuk raja-raja di Sumatra Timur lainnya untuk memihak Republik.

  4. Pendidikan: Untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme di tengah masyarakat, ia mendirikan berbagai lembaga pendidikan umum dan agama, seperti HIS (Holland Inlandsche School) dan Madrasah Sultanah Latifah School. 

  5. Akhir Hayat dan Warisan. Setelah Belanda menyerah, Sultan Syarif Kasim II sempat pindah ke Jakarta dan hidup sederhana. Di masa senjanya, ia kembali ke Siak dan wafat pada 23 April 1968 di Rumbai, Pekanbaru. Jenazahnya dimakamkan di Siak Sri Indrapura dengan upacara militer. Untuk menghormati jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan namanya diabadikan sebagai nama fasilitas publik utama di Riau, seperti Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II dan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) di Pekanbaru.