Pekanbaru||www.pta-pekanbaru.go.id

Senin, 28 September 2026, setelah pelaksanaan apel Senin pagi, kegiatan di Pengadilan Tinggi Agama Pekanbaru dilanjutkan dengan pembinaan mental yang dilaksanakan di Ruang H. Busthanul Arifin PTA Pekanbaru. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh personel PTA Pekanbaru. Pembinaan mental disampaikan oleh Dr. H. Barmawi, M.H. dan diawali dengan pembacaan Surah Al-'Ashr. Dalam penyampaiannya, beliau mengangkat kisah sahabat Rasulullah SAW, Abu Dzar Al-Ghifari, sebagai teladan dalam memperkuat iman dan mempersiapkan diri menjalani kehidupan.

Abu Dzar Al-Ghifari merupakan salah seorang sahabat yang memeluk Islam pada masa awal kenabian, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Ketertarikannya terhadap ajaran Islam mendorong Abu Dzar datang menemui Rasulullah SAW untuk menyatakan keislamannya. Keberanian dan keteguhannya dalam mempertahankan keimanan menjadi salah satu keteladanan yang dapat diambil dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembinaan tersebut disampaikan empat pesan Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari yang sarat dengan makna kehidupan. Pertama, “Perbaharuilah perahumu, karena sesungguhnya lautan itu sangat dalam.” Pesan ini dimaknai sebagai pentingnya senantiasa memperbarui iman dan niat. Kehidupan dunia diibaratkan seperti lautan yang dalam, sehingga seseorang perlu memiliki iman dan niat yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing.

Kedua, “Ambillah bekalmu dengan sempurna, karena perjalanan itu sangat jauh.” Pesan tersebut mengingatkan bahwa perjalanan kehidupan, terlebih menuju kehidupan akhirat, membutuhkan bekal berupa amal kebaikan, ketakwaan, dan amal saleh.

Ketiga, “Ringankanlah bebanmu, karena kehidupan itu sangat berliku-liku.” Setiap manusia perlu mengurangi beban yang tidak bermanfaat, baik berupa kesalahan, kebiasaan buruk maupun perkara yang dapat menghambat langkah dalam menjalani kehidupan.

Keempat, “Ikhlaskanlah dalam beramal, karena Allah SWT selalu melihat.” Pesan ini menjadi pengingat agar setiap pekerjaan dan amal kebaikan dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT, bukan semata-mata mengharapkan pujian atau pengakuan dari manusia.

Selain itu, disampaikan pula pentingnya menjaga lisan. Lidah dapat menjadi sarana yang mengangkat derajat seseorang, menjadikannya baik dan mulia, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah apabila tidak digunakan dengan bijaksana. Oleh karena itu, setiap perkataan hendaknya dipikirkan terlebih dahulu agar memberikan manfaat, menjaga perasaan orang lain, serta tidak menimbulkan perselisihan.

Melalui pembinaan mental ini, seluruh aparatur PTA Pekanbaru diharapkan dapat mengambil hikmah dari keteladanan Abu Dzar Al-Ghifari dengan senantiasa memperbarui iman dan niat, mempersiapkan bekal amal kebaikan, meringankan beban kehidupan dengan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, serta menjaga keikhlasan dalam setiap pekerjaan. Dengan demikian, pembinaan mental tidak hanya menjadi kegiatan rutin, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat ketakwaan, memperbaiki akhlak, menjaga lisan, dan meningkatkan kualitas pengabdian dalam melaksanakan tugas di lingkungan PTA Pekanbaru.