Pekanbaru||www.pta-pekanbaru.go.id

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026 bertepatan dengan 22 Ramadhan 1447 H, tausiah Ramadhan yang dilaksanakan setelah sholat Zuhur berjamaah di Musholla Al Mahkamah PTA Pekanbaru disampaikan oleh Ketua PTA Pekanbaru, Dr. H. M. Sutomo, SH., MH dengan judul Keutamaan Lailatul Qadar. Tausiah ini diikuti oleh seluruh jemaah sholat Zuhur yang hadir di Musholla Al Mahkamah PTA Pekanbaru.

Dalam tausiah tersebut, penceramah menjelaskan bahwa umat Islam sering mendengar bahwa pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil, terdapat malam yang sangat istimewa yaitu Lailatul Qadar. Keutamaan malam ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an terdapat dalam Surah Al‑Qadr ayat 3 yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, amal ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun.

Mengapa disebut lebih baik dari seribu bulan? Pada malam Lailatul Qadar para malaikat turun ke bumi membawa keberkahan dan rahmat dari Allah SWT. Malam tersebut menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, doa, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Dalam tausiah ini juga diceritakan sebuah kisah dari zaman Bani Israil tentang seorang hamba Allah yang dikenal sebagai Sam'un Al‑Ghazi, yang dalam literatur modern sering dikaitkan dengan tokoh Samson. Pada masa itu masyarakat berada dalam keadaan penuh kejahiliyahan, kekafiran, dan kezaliman. Sam’un dikenal sebagai seorang pejuang yang berjuang melawan kezaliman dan menegakkan kebenaran demi agama Allah.

Diceritakan bahwa Sam’un berperang melawan musuh-musuhnya dengan menggunakan senjata sederhana, bahkan disebutkan menggunakan rahang unta. Keberanian dan kekuatannya membuat raja pada masa itu sangat marah. Sang raja kemudian mengadakan sayembara: siapa saja yang mampu menangkap dan mengikat Sam’un Al-Ghazi akan mendapatkan hadiah besar.

Tidak seorang pun berhasil melakukannya. Namun istri Sam’un tergoda oleh hadiah yang dijanjikan oleh raja. Ia kemudian berusaha mencari tahu kelemahan suaminya dengan cara merayu dan terus bertanya kepadanya. Pada akhirnya Sam’un menyampaikan bahwa kelemahannya terdapat pada rambutnya yang panjang. Saat Sam’un tertidur, istrinya mengikatnya menggunakan empat helai rambutnya, sehingga ia dapat ditangkap dan dibawa ke istana raja.

Ketika berada di hadapan raja dan mengalami penyiksaan, Sam’un memanjatkan doa kepada Allah SWT seraya memohon pertolongan-Nya dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim dan La haula wa la quwwata illa billah. Dengan izin Allah SWT, istana tempat ia disiksa pun roboh dan hancur. Sam’un kemudian kembali sehat dan tetap berkomitmen untuk menegakkan kebenaran serta menjalankan perintah Allah SWT.

Dalam kisah tersebut disebutkan bahwa Sam’un berjuang dan beribadah kepada Allah selama seribu bulan. Kisah inilah yang kemudian menjadi pelajaran bagi umat Nabi Muhammad SAW tentang betapa besarnya nilai ibadah selama waktu yang panjang. Namun Allah SWT memberikan karunia yang sangat besar kepada umat Nabi Muhammad SAW berupa malam Lailatul Qadar, di mana ibadah pada satu malam saja nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan.

Melalui tausiah ini, penceramah mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah seperti sholat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Semoga dengan meningkatkan kualitas ibadah dan keteguhan iman, kita semua dapat meraih keberkahan malam Lailatul Qadar serta menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya.