Saat melihat dan mendengar kata sms, maka yg terlintas dalam benak dan pikiran kebanyakan orang adalah sebuah pesan dalam bentuk tertulis yang dikirimkan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan media handphone. Sms dengan pengertian tadi merupakan sebuah media komunikasi yang muncul dan berkembang bersamaan dengan munculnya handphone itu sendiri. Sms diartikan seperti tadi adalah lumrah dan tidak salah karena sms itu sendiri merupakan singkatan dari “short message system” yang dapat diartikan sistem pesan pendek. Disebut pendek disebabkan terbatasnya kafasitas huruf dan kata yang dijadikan pesan dalam sistem tersebut. Kemudian dengan pesatnya perkembangan dan kemajuan teknologi, istilah dan penggunaan kata sms pun tergantikan dengan istilah chat dan jafri meskipun esensinya tak jauh berbeda.

Dalam tulisan sederhana ini, ambo tidak akan membahas panjang lebar makna sms sebagaimana pemahaman kebanyakan orang saat ini. Ambo akan memberikan makna lain yang mudah-mudahan dapat memberi manfaat. Sms merupakan singkatan dari empat arti yang memiliki dua dimensi. Dimensi tersebut sangat terkait dengan potensi jiwa manusia yaitu potensi fujur dan potensi taqwa.

Keempat singkatan dari kata sms adalah sebagai berikut:

  • Senang Melihat orang lain S
  • Senang Melihat orang lain S
  • Susah Melihat orang lain S
  • Susah Melihat orang lain S

Singkatan yang pertama dan keempat dapat dikategorikan sikap yang muncul dari potensi taqwa manusia. Yang pertama merupakan sikap yang lahir dari akhlak “hubbul-khair li al-ghair”  yang termasuk akhlak mahmudah (terpuji). Yang keempat merupakan perwujudan dari sikap empati yaitu kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hal ini lahir dari sikap rahmah dan kasih sayang yang juga termasuk akhlak mahmudah.

Sedangkan singkatan yang kedua dan ketiga dapat dikategorikan sikap yang muncul dari potensi fujur manusia. Keduanya lahir dari sikap hasad atau iri dengki yang tertanam dalam jiwa. Hasad termasuk dalam kategori akhlak madzmumah (tercela).

Keempat arti dari kata sms tersebut memiliki peluang yang sama dalam jiwa manusia karena semuanya merupakan perwujudan dan aktualisasi dari potensi fujur dan taqwa dalam jiwa seseorang. Agar potensi taqwa yang lebih dominan aktualisasinya, maka kita perlu melakukan upaya tazkiyah al-nufus (penyucian jiwa), tahdzibul-akhlaq (pembiasaan akhlak yang baik)  serta tashfiyah al-qulub (penjernihan hati). Hati yang bersih, jiwa yang jernih dan akhlak baik yang terlatih memberikan kemampuan lebih dalam menangkap sinyal pesan-pesan Allah yang tersebar dalam ayat-ayat kauniyah maupun qur’aniyah-Nya.

Tashawwuf merupakan ilmu yang berupaya melakukan peran-peran tersebut. Tashawwuf-sebagaimana kata syeikh Ali Jum’ah (seorang ulama kontemporer dan mantan mufti Mesir) dalam kitabnya al-Thariq ilallah-merupakan ilmu yang lahir untuk mewujudkan maqam ihsan yang terdapat dalam sebuah hadits panjang dimana Jibril mengajarkan shahabat Nabi tentang Islam, Iman dan Ihsan. Agar kita memiliki kemampuan menterjemahkan sms dengan dimensi taqwa tidaklah salah pabila kita mempelajari ilmu tashawwuf. Mudah-mudahan bermanfaat. (Teluk Kuantan, 09 Februari 2020 by Kang Erlan Naofal)