Oleh:
Faried Almaas, S.H.
Analis Perkara Peradilan PA Dumai
Pagi yang Biasa di Pengadilan
Pagi itu terasa seperti biasa, sinar mentari masuk melalui jendela lobi, pegawai mulai menata meja, dan pengunjung datang untuk mengurus berbagai keperluan. Namun, di sudut loket Informasi dan Pengaduan, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Seorang pria tampak gelisah, memegang dokumen di tangan, dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dan kebingungan.
Secara tidak sengaja, aku bersandar cukup dekat untuk mendengar sebagian keluhannya. Aku sadar, apa yang akan kudengar bukan sekadar masalah administratif. Ini adalah cerita manusia yang tersentuh oleh hukum dan jarak emosional.
Aku memperhatikan gerak-gerik kecilnya, seperti tangan yang sesekali menggeser dokumen, mata yang menatap kosong ke lantai, dan napas yang terdengar berat seolah menahan beban yang tak terlihat. Suasana lobi yang biasanya ramai terasa mendadak sunyi bagiku, karena fokusku tertuju pada pria ini. Ada rasa ingin tahu dan empati yang muncul, membuatku sadar bahwa di balik rutinitas pengadilan, ada kisah hidup yang nyata dan penuh perasaan, yang menunggu untuk didengar.
Cerita di Balik Gugatan Cerai
Pria itu menceritakan bagaimana istrinya menggugat cerai tanpa sepengetahuannya. Yang lebih menyakitkan, alamat yang diberikan sang istri kepada pengadilan tidak sesuai kenyataan, hanya alamat kerabatnya. Padahal, rumah suami dan istrinya hanya berjarak beberapa ratus meter.
Mendengar itu, aku merasakan gap antara hukum dan realitas hidup. Secara formal, pengadilan menerima alamat tersebut sebagai benar; secara emosional, suami itu merasakan jarak yang jauh dan kehilangan kendali atas situasi rumah tangganya. Hanya beberapa ratus meter secara fisik, tetapi terasa seperti samudra yang memisahkan mereka.
Aku bisa merasakan kepedihan yang tersembunyi di balik kata-katanya, bagaimana rasa percaya yang dulu ada kini berubah menjadi kebingungan dan kekecewaan. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya seolah membawa beban yang tak terlihat, dan aku menyadari bahwa proses hukum, meskipun sah secara formal, sering kali tidak cukup untuk menjembatani luka emosional yang dirasakan pihak-pihak yang terlibat. Momen itu membuatku berpikir tentang pentingnya empati dalam setiap interaksi di pengadilan, bukan hanya menegakkan aturan.
Jarak yang Tidak Hanya Fisik
Momen itu membuatku merenung. Dalam pekerjaan sehari-hari, kita sering berinteraksi dengan dokumen, aturan, dan prosedur. Tapi kali ini, aku menyaksikan jarak yang nyata antara hukum dan kehidupan manusia.
Jarak yang hanya ratusan meter secara fisik, ternyata bisa menjadi simbol jarak emosional, ketidakpastian, dan kehilangan kontrol. Aku menyadari bahwa setiap berkas yang masuk ke pengadilan adalah kisah manusia yang kompleks, bukan sekadar dokumen formalitas.
Aku mulai menyadari bahwa jarak bukan hanya soal ruang, tapi juga tentang pemahaman, komunikasi, dan keadilan yang kadang tak sejalan dengan prosedur hukum. Bahkan ketika kita berada begitu dekat secara fisik, manusia bisa merasa terpisah oleh keputusan, perasaan, dan ketidakpastian yang muncul dari proses hukum. Momen itu mengajarkanku bahwa pekerjaan di pengadilan tidak hanya tentang dokumen dan alamat, tetapi juga tentang menghargai sisi manusiawi dari setiap kisah yang hadir di balik berkas-berkas formal.
Lebih dari Sekadar Administrasi
Kebetulan hari itu aku berada di dekat loket Informasi dan Pengaduan, menyaksikan teman kerjaku membantu pengunjung dengan prosedur dan menjelaskan alur pengadilan. Dari tempatku berada, aku menjadi saksi bagi emosi, kebingungan, dan kesedihan manusia yang datang mencari keadilan, meskipun aku sendiri tidak secara langsung menangani pengaduannya.
Aku belajar bahwa pekerjaan di pengadilan bukan hanya tentang dokumen dan aturan, tetapi juga tentang empati, kesabaran, dan kemampuan mendengarkan. Kadang, yang dibutuhkan orang bukan sekadar jawaban prosedural, tetapi ruang untuk didengar dan dipahami.
Hari itu membuatku menyadari bahwa peran seorang petugas bukan sekadar mediator antara hukum dan masyarakat, tetapi juga jembatan emosional. Mendengar langsung keluhan dan curhatan pengunjung memberiku perspektif baru, bahwa di balik setiap prosedur, ada manusia yang berharap didengar, dimengerti, dan dibantu tanpa merasa dihakimi. Pengalaman ini mengingatkanku bahwa pekerjaan di pengadilan adalah pelayanan kemanusiaan yang berjalan seiring hukum, kemampuan untuk hadir secara penuh dengan empati dan perhatian adalah bagian penting dari tugas ini.
Harapan
Hari itu meninggalkan kesan mendalam. Aku menyadari bahwa di balik setiap gugatan, setiap berkas, ada manusia dengan cerita, rasa sakit, dan harapan. Pekerjaan di pengadilan tidak selalu mudah, tapi pengalaman seperti ini mengingatkanku bahwa hukum dan kemanusiaan harus berjalan berdampingan.
Mungkin alamat, ratusan meter, atau dokumen hanyalah simbol formalitas. Namun, cerita di balik itu mengajarkanku untuk lebih peka terhadap jarak emosional yang tak terlihat, jarak yang terkadang jauh lebih sulit dijembatani daripada sekadar angka atau dokumen.
Aku pun merenung tentang diriku sendiri dalam peran ini. Mendengar kisahnya membuatku menyadari bahwa menjadi petugas pengadilan bukan hanya soal profesionalisme, tetapi juga tentang kemanusiaan yang hadir di setiap interaksi. Setiap senyum, perhatian, dan kata penghibur yang tulus, sekecil apapun, bisa menjadi jembatan bagi mereka yang sedang kehilangan arah. Hari itu mengajarkanku bahwa pekerjaan kita, walau dibingkai aturan dan prosedur, sebenarnya juga tentang menyalakan secercah harapan bagi mereka yang berada dalam kesulitan.

Website Mahkamah Agung Republik Indonesia
Website Badilag
Website Pengadilan Tinggi Pekanbaru
Website Kejaksaan Tinggi Riau
Website Pemeritah Provinsi Riau
JDIH Mahkamah Agung
SIWAS Mahkamah Agung
Portal LIPA PTA Pekanbaru

