Oleh Zulkifli pta Pekanbaru

                         

          Puasa segera datang, puasa adalah bentuk penyerahan diri kepada Allah SWT, dan pengendalian diri dari hawa nafsu dunia, dan  berpuasa akan membebaskan manusia terbebas dari kekangan hawa nafsu,  puasa tersebut selalu menggarap hawa nafsu, karena nafsu akan selalu ada selama manusia ada, ada sedikit perbedaan antara bahasa kita dengan bahasa al-quran, dalam masalah ini bahasa kita “menahan hawa nafsu” sedangkan bahasa al-qurannya berbunyi“ Wanahan’nafsa ‘anil hawa” ( Q.S.  Annaazi’aat :40 ) menahan hawa nafsu dari hawa. Namun Tafsir Ibnu Kasir menterjemahkan ayat tersebut sama dengan bahasa kita yang artinya “ adapun orang yang merasa takut  bagaimana kelak bila dihadapan Tuhannya,  lalu  ia sanggup menahan hawa nafsunya, sehingga dapat mengekang hawa nafsu dari segala larangan Allah, dan melakukan dengan patuh semua perintah Allah,  nah dengan al- imsak  hawa nafsu dapat dikendalikan. Allah swt memanggil orang beriman berpuasa“ Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu” (Q.S. Al-Baqarah : 183)

               Puasa secara sederhana, selalu diartikan dengan kegiatan menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hubungan seksual suami istri sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Inilah arti yang umum difahami oleh umat, namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa puasa berarti melaksanakan  ibadah kepada Allah dengan jalan menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami istri disiang hari.

             Kalau diamati ada tiga hal yang pokok yang perlu menjadi perhatian disini, yaitu pertama menahan dan mengendalikan diri dari kungkungan dan belenggu hawa nafsu,  kedua, Pekerjaan itu dilakukan sebagai tanda patuh dan taat kepada Allah, dan ketiga Pengendalian dan pengekangan hawa nafsu itu dilakukan dalam waktu tertentu, bukan sepanjang waktu.

                Sebagaima kita maklumi bahwa Allah telah memberikan Nafsu kepada manusia dan hewan, serta tidak dipunyai oleh malaikat, selain diberi nafsu, manusia dibekali pula dengan akal dan Agama, sangat berbeda dengan hewan yang tidak bermodalkan pikiran dan iman, serta sangat lain dari malaikat yang penuh iman dan kepatuhan. Bagi manusia nafsu menjadi amunisi yang mendorongnya untuk dinamis disamping dapat pula menjadi penghancur diri sendiri, orang lain, dan alam jika nafsu tanpa kendali. Disinilah manusia perlu diberi tuntunan dalam mengendalikan hawa nafsu itu.

             Manusia dulu, sekarang bahkan nanti pada dasarnya mempunyai kecendrungan-kecendrungan, cenderung kepada kebaikan dan cenderong kepada kemungkaran, tarikan kepada kemungkaran terutama bagi yang beriman lemah, akan terasa lebih kuat ketimbang tarikan kepada kebaikan atau kemaslahatan, oleh sebab itu  Allah menjelaskan bahwa mewaspadai hawa nafsu diantaranya dengan melaksanakan ibadah puasa.

               Puasa adalah wahana pendidikan agar manusia dapat mengatur dan menjinakkan nafsunya sendiri. Pembinaan hawa nafsu itu, dalam Islam bukan hanya melalui penajaman akal pikiran, tetapi juga melalui Iman. Islam mengajarkan bagimana hendaknya Iman dan keyakinan ikut memandu dan mengendalikan nafsu, sehingga manusia berada pada derajat yang mulia.

               Sejarah membuktikan bahwa betapa banyak kerusakan dibumi ini. Itu akibat ulah manusia sendiri, banyak terjadi pertumpahan darah, pemerkosaan, perampokan, dan berbagai tindak criminal lainnya, adalah akibat nafsu yang merajalela, sogok menyogok, Kolusi,  korupsi dan nepotisme dan perbuatan buruk lainnya berupa narkoba, dan berbagai prilaku menyimpang terjadi akibat manusia memperturutkan nafsunya. Manusia kalau menjadi hamba hawa nafsu akan berprilaku machiaveli dan permisivistik.

               Islam mengajarkan agar hawa nafsu itu diatur dan dikendalikan, bukan dibunuh. Perjuangan mengendalikan hawa nafsu merupakan suatu jihad yang sangat besar, pernah selepas suatu peperangan. Nabi Muhammad SAW menyampaikan kepada para sahabat bahwa mereka baru kembali dari suatu peperangan kecil dan akan berhadapan dengan perang yang akbar. Sahabat terheran dan bertanya kenapa perang yang sudah lalu itu kecil dan siapa yang dihadapi dalam perang yang  besar nanti. Nabi Muhammad SAW menjawab bahwa perang yang besar itu ialah jihad melawan hawa nafsu, sebab kita berperang dengan diri sendiri. Berjihad melawan musuh dapat dilihat dan disiasati. Tetapi berperang melawan keinginan hawa bafsu justru inilah yang paling sulit.

                Dalam berpuasa, seharusnya yang kita lihat dan rasakan bukan lapar dan dahaga itu, tetapi apa keuntungan dan hikmah dari berlapar-lapar dan berhaus-haus itu. Puasa membebaskan kita dari budak nafsu. Berpuasa menjadikan kita terlepas dari pengaruh dan tekanan hawa nafsu akibat kepatuhan kita yang utuh dan bulat hanya kepada Allah. Kita tidak akan terkalahkan oleh godaan duniawi jika kita memposisikan kepatuhan kepada Allah di atas segala-galanya. Puasa bukan untuk menyulitkan kita, tetapi justru untuk menolong kita. Tuhan mengingatkan bahwa “Berpuasa itulah yang terbaik untukmu jika kamu mengetahui ( QS.2 :  184)  Marhaban Ya Ramadhan...