PA TBK On Air Kembali Mengudara Di Radio Canggai Putri Fm Kabupaten Karimun
Dengan Narasumber Mediator Non Hakim PA Tanjung Balai Karimun

WhatsApp Image 2022 04 06 at 10.31.07

PA TBK News,
Rabu 06 April 2022, PA TBK On Air Kembali Mengudara di Radio Canggai Putri Fm Kabupaten Karimun, kali ini berbeda karena yang menjadi Narasumber adalah Mediator Non Hakim PA Tanjung Balai Karimun Rica Irma Darmayanti, S.Kom, M.Si. Adapun tema yang dibawakan kali ini adalah mengenai ‘’Dampak psikologis anak pasca perceraian’’.  Tema yang menarik dan tak pernah ada habisnya sepanjang hayat, karena ilmu tentang jiwa adalah ilmu dimana selagi jiwa hidup terus dan berubah tidak kekal. Maka Hukum-Hukum dualititas pasti dilaluinya. Ada baik buruk, ada siang malam, ada dosa dan pahala, ada cerai dan nikah, dan ada hidup dan mati. dan lebih lanjut dalam perbincangan tersebut beliau menjabarkan tentang bagaimana ’Dampak psikologis anak pasca perceraian’’ berikut penjelasannya.

WhatsApp Image 2022 04 06 at 10.31.07 1

Terkadang, bercerai bisa jadi satu-satunya pilihan yang diambil orang tua setelah mengalami berbagai konflik rumah tangga. Perceraian dapat menciptakan gejolak emosi bagi seluruh keluarga dan juga berdampak besar pada sisi psikologis anak. Pada anak, situasi perceraian orang tua dapat sangat menakutkan, membingungkan, dan membuat frustrasi. Anak-anak kecil sering berjuang untuk memahami mengapa mereka harus pergi meninggalkan salah satu orang tuanya. Anak juga mungkin khawatir jika perpisahan ini membuat orang tua berhenti saling menyayangi dan mereka tidak lagi menyayangi si anak. Tahun pertama perceraian ialah momen terberat. Anak berjuang paling banyak selama tahun pertama atau kedua setelah perceraian. Anak cenderung mengalami kesulitan, kemarahan, kecemasan, dan ketidakpercayaan. Kemudian, banyak anak-anak yang bisa bangkit kembali karena pada akhirnya mereka terbiasa dengan perubahan dalam rutinitas sehari-hari dan mereka merasa nyaman dengan pengaturan hidup mereka. Namun, yang lain, tampaknya tidak pernah benar-benar kembali ke kehidupan normalnya. Bahkan, ada juga anak mengalami masalah berkelanjutan hingga dewasa.

WhatsApp Image 2022 04 05 at 19.53.24

Anak-anak usia sekolah dasar mungkin khawatir bahwa perceraian adalah kesalahan mereka. Pada usia remaja, perceraian bisa membuat anak sangat marah. Mereka mungkin menyalahkan dan membenci orang tua atas kejadian ini. Untuk beberapa anak, sebenarnya perpisahan orang tua bukanlah bagian paling sulit. Penyebab stres ialah berbagai perubahan yang terjadi, termasuk pindah sekolah, tinggal di rumah baru, berada di lingkungan baru, dan hanya tinggal dengan salah satu orang tua. Belum lagi, perceraian juga sering menimbulkan masalah keuangan. Banyak keluarga harus pindah ke rumah lebih kecil, mengubah gaya hidup, dan memiliki penghasilan lebih sedikit. Masalah lain yang bisa jadi dampak dari perceraian ialah kesehatan mental anak terganggu. Tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan budaya, penelitian menunjukkan anak-anak dari orang tua bercerai mengalami peningkatan masalah psikologis. Bila setelah cerai, orang tua tidak memperhatikan kesejahteraan anak, ini akan memengaruhi mental dan emosional jangka panjang pada anak. Penelitian menemukan bahwa kondisi depresi dan tingkat kecemasan terjadi lebih tinggi pada anak-anak dari orang tua bercerai. Tanda-tanda umum kecemasan atau depresi pada anak-anak termasuk masalah tidur, kesulitan di sekolah, penyalahgunaan narkoba atau alkohol, menyakiti diri sendiri, gangguan makan, dan kurangnya minat dalam kegiatan sosial. Anak juga rentan mengalami masalah perilaku, kenakalan, perilaku impulsif, dan mengalami lebih banyak konflik dengan teman sebayanya setelah orang tua bercerai. Pada akhirnya, anak dari keluarga bercerai berisiko tidak berkinerja baik secara akademis. Perceraian orang tua juga dikaitkan dengan tingkat bolos dan putus sekolah lebih tinggi. Kemudian, kondisi perceraian orang tua sewaktu anak masih kecil berdampak pada kurangnya kesuksesan pada usia dewasa muda dalam hal pendidikan, pekerjaan, dan hubungan romantis. Tingkat perceraian pun jadi lebih tinggi untuk orang-orang yang orang tuanya bercerai. Ketika anak-anak tumbuh melihat pernikahan gagal, mereka mengembangkan keraguan tentang cinta dan harmoni dalam suatu hubungan. Mereka memiliki masalah kepercayaan dan merasa sulit untuk menyelesaikan konflik dalam suatu hubungan. Saat dewasa, si anak akan memulai hubungan apa pun dengan pola pikir negatif.

Bahkan, risiko lain pada anak ialah penggunaan narkoba dan aktivitas seksual dini. Di Amerika Serikat, remaja dengan orang tua bercerai mulai minum alkohol, merokok, dan penggunaan narkoba lebih tinggi. Remaja yang orang tuanya bercerai ketika ia berusia lima tahun atau lebih muda memiliki risiko sangat tinggi untuk menjadi aktif secara seksual sebelum usia 16 tahun. Namun, tak semua anak dengan orang tua bercerai akan mengalami semua dampak tersebut. Pada dasarnya dampak psikologis pada anak bisa berbeda. Ya, perceraian orang tua bisa membuat semua anak stres, yang membedakan adalah beberapa anak lebih cepat pulih dari anak lain. Bahkan, ada anak merasa lebih lega dengan perpisahan orang tuanya, jika itu berarti tak ada lagi kesedihan, pertengkaran, adu argumen, dan kekerasan yang biasa terjadi di rumah.

Setelah penjelasan oleh Rica Irma Darmayanti, kemudian dilanjutkan tanya jawab langsung dari pendengar Radio Canggai Putri FM dan ada juga melaui email dan whatsapp, salah satu pertanyaan bernama Faris (Mahasiswa), beliau mempertanyakan mengenai bagaimankah cara memilih pasangan supaya awet dan tidak bercerai mengingat temanya akan berdampak pada anak?, Kemudian Rica Irma Darmayanti menjelaskan pertanyaan Faris tersebut secara rinci dan jelas.

Alhamdulillah acara di Radio Canggai Putri Fm Kabupaten Karimun berjalan lancar muda-mudahan penjelasan yang telah di sampaikan oleh Rica Irma Darmayanti tersebut dapat dicerna dan dipahami oleh masayarakat Tanjung Balai Karimun