(Ketua Pengadilan Agama Ujung Tanjung, Surya Darma Panjaitan, S.H.I., M.H., sedang bermain tennis)

 Olahraga adalah aktivitas yang menyenangkan, sehat, bahkan sebagai sarana untuk meningkatkan kekuatan mental dan fisik. Salah satu olahraga yang digemari oleh warga peradilan adalah olaharaga Tenis, mulai dari hakim, kepaniteraan, kesekretariatan, dan warga peradilan lainnya menyukai Tenis. Bahkan, satu organisasi dibentuk secara khusus untuk menaungi para pecinta tenis di lingkungan Mahkamah Agung yaitu PTWP atau Persatuan Tenis Warga Peradilan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sportivitas adalah sikap adil (jujur) terhadap lawan; sikap mengakui keunggulan (kekuatan kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Sportivitas adalah nilai yang selalu disematkan pada semua pertandingan, tidak hanya sampai situ, nilai sportivitas dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Nilai yang melandasi sportivitas adalah nilai dasar bagi manusia dalam bersosial, nilai tersebut adalah nilai saling menghormati, bersikap adil, beradab, berlaku jujur, dan bertanggung jawab. Sehingga secara tidak langsung sportivitas menunjukan bahwa sikap ini tidak hanya berlaku pada lingkungan olahraga, tetapi dapat diaplikasikan dalam kehidupan bersosial lainnya terutama dalam bekerja. Dalam pertandingan tenis seorang pemain diajarkan untuk menganggap wajar kemenangan ataupun kekalahan, secara implisit hal tersebut akan berpengaruh terhadap kemampuan diri untuk menilai kekurangan dan kelebihan pribadi masing-masing. Kemampuan untuk menilai diri sendiri tersebut diperlukan untuk mengenali aspek apa saja yang dapat dikembangkan pada kemudian hari.

 

Bersikap sportif perlu ditanamkan sejak dini, karena apabila kita melihat lebih dalam sikap sportif dapat menjadikan individu untuk lebih memahami makna sebuah perjuangan dalam mendapatkan sesuatu dengan cara yang halal, dengan kata lain memperoleh sesuatu dengan kerja keras dan tekad yang kuat. Selain itu, bersikap saling menghormati dan menghargai dapat melatih individu untuk berjiwa besar dan mengakui kemampuan orang lain. Dengan mengakui kekalahan, kekurangan, keunggulan orang lain bukan berarti pasrah terhadap takdir, tapi sikap tersebut dapat memacu diri untuk tetap berproses menjadi individu yang lebih baik lagi. (antonsogiri)