Oleh : Drs. H. Insyafli, M.HI
Hakim Tinggi PTA Pekanbaru
Bagian Kedua
Pertemuan Pertama Rabu 16 Mei 2012
Kami berjalan menuju gedung pertemuan yang kami belum kenal dimana posisinya, karena sopir yang dijanjikan mengantar kami belum datang. Setelah bertanya kiri kanan, dan berjalan bolak bali karena salah jalan alias nyasar, akhirnya kami sampai juga di gedung ‘Ma’had Ali lil Qadla’, semacam lembaga untuk pendidikan dan pembinaan hakim di Saudi Arabia. Disambut oleh beberapa petugas Ma’had yang kesemuanya memakai pakaian seragamnya, gamis putih pakai egal dan kerudung khas belang-belang merah putih, kami diantar ke ruangan tempat pertemuan.

Foto bersama salah seorang Panitia Penyambutan di gedung Ma’had Ali Lil Qadha Riyadh
Masuk ke dalam ruang, rupanya tempat duduk sudah diatur kursinya berlingkar oval dengan perabot yang cukup luks dan masing-masing peserta dihadapannya ada speaker dengan nama-nama masing-masing sudah ditarok di depan maik biasalah forum resmi begitu . Ternyata kami disebut oleh mereka dengan syeikh, nama saya ditulis dikertas dengan Syeikh Insyafli Nasruddin Abdurrazaq.
Acaranya sederhana, tidak ada MC, tapi langsung saja seorang Hakim Isti’nafiyah Hakim Tinggi fadlilah al-Syeikh Abdul Aziz al-Mahnaa, dengan materi “Shiyaghah wa tansiibil Ahkaam”, Dia juga memberikan sambutan atas nama Pimpinan Ma’had, sekaligus memberikan ceramah singkat, tentang sejarah kerajaan Arab Saudi, sistem peradilan di Kerjaaan Arab Saudi, tentang hukum materil dan hukum acara di peradilan Arab Saudi, serta serbi Ma’had Ali lil Qadha’ sebagai wadah penggodokan atau pendidikan hakim Arab Saudi dimana satu-satunya lembaga yang menyelengggarakan pelatihan dan pendidikan hakim di Saudi Arabia hanya di Ma’had ini. Sebelumnya penceramah menanyakan apakah ceramahnya dapat dipahami dan apakah kami memerlukan seorang mutarjin, juru terjemah, semuanya menjawab mafhum dan tidak membutuhkan mutarjim. Setelah dia selesai ceramah, kami diberikan kesempatan untuk memperkenalkan rombongan dan ketua rombongan memberikan sedikit sambutan dan masing-masing peserta diberikan kesempatan memberikan taaruf. Kelihatan Syekih cukup bangga karena semua peserta dapat berbahasa Arab dengan lumayan baik.

Suasana di Tempat Ruang Penyambutan
Sebenarnya kami semula mengira bahwa acara hari itu hanya sambutan saja, karena capek dan mengantuknya masih dominan , tetapi ternyata setelah satu setengah jam acara itu, kami diberikan istirahat minum, dan setelah itu masuk kembali menerima materi berikutnya. Apaboleh buat, kami ikut masuk kembali dan penceramahnya kali ini cukup kocak dan komunikatif, sehingga acara jadi ramai. Dia adalah Ustaz Doktor Zaid bin Abdil Kariim al-Zaid guru besar fiqih perbandingan di Ma’had dengan materi pokok tentang al-Tahkim. Dengan tayangan di layar kami dapat mengikti ceramah dengan baik, dan diskusi juga berjalan disela-sela ceramahnya. Dia menguraikan tentang beberapa lembaga yang terdapat di tengah-tengah masyarakat untuk menyelasaikan setiap persengketaan antara mereka. Mulai dari zaman Rasulullah, zaman sahabat para tabiin dan seterusnya sampai ke zaman kerajaan Arab Saudi sekarang ini.
Dia mengulas persamaan dan perbedaan antara lembaga-lembaga peneyelesai sengketa itu, misalnya, perbedaan antara lembaga Tahkim, lembaga Sulh lembaga al-khabiir, lembaga fatwa dengan lembaga peradilan. Dia menjanjikan bahwa makalah ceramahnya yang terdiri dari beberapa bahagian akan diberikan kepada masing-masing kami copiyannya. Sekitar jam 11. 30 acara selesai, dan kami siap-siap mau shalat jamaah di Mesjid Jami al-Imam Muahammad bin Suud, sekitar 20 m dari gedung pertemuan. Tetapi begitu keluar gedung saya terkejut, karena suhu di luar sangat panas, sekitar lebih dari 45 derajat celsius, mantap panasnya. Sesudahnya shalat sebenarnya kami sudah mau berjalan kaki menju tempat makan siang dekat apartemen, tetapi begitu disapa oleh petugas Ma’had, kami diajaknya menunggu bus jemputan dan kami diminta menunggu sebentar. Ternyata sebentarnya hampir satu jam, perut sudah keroncongan, baru kami daintar ke apartement, dan setelah ganti pakaian baru kami menuju ruang makan sekitar 300 m. Untung magh saya tidak kam buh, saya cepat-cepat makan promagh. Alhamdu lillah kenyang makanannya bisa saya nikmati, habis makan pulang ke apartement untuk istirahat. Aduh enaknya istirahat dalam apartemen yang cukup dingin, padahal di luar lebih 45 derajat celcius.

Suasana di Shillat al-Tha’am (ruang makan)
Alaram saya stel jam 6 sore waktu Arab Saudi, begitu terbangun, saya mandi koboy, berganti pakaian shalat,ternyata hidung saya terasa perih, karena saya termasuk orang yang susah bersahabat dengan pendingin ruangan. Kulit terasa kering, dan saya keluar sekitar jam 6 lewat seperempat mau ke mesjid, saya tambah kaget karena ternyata meskipun matahari sudah terbenam suhu diluar belum berkurang dari suhu di siang hari, masya Allah, panasnya. Saya berupaya menyesuaikan diri dengan cuaca seperti ini, sampai jam 10 malam suhu dilaur masih seperti itu, karena berubahnya saya tidak pernah tahu, karena sudah tertidur dan bangun jam 4 subuh, suhunya sudah dingin. Bagi saya pribadi kalau disuruh memilih saya lebih tahan suhu panas daripada suhu dingin, karena hidung saya terasa perih sekali. Terpaksa kalau dalam kamar saya menutup hidung dan mulut saya sehingga terasa agak nyaman. Kalau AC kamar dimatikan, terasa pengap dan ada nyamuk.
Habis shalat Maghrib kami menuju ruang makan kembali untuk makan malam. Kami makan di ruang makan khusus untuk tamu. Di ruang makan kami bertemu dengan salah seorang mahasiswa S3 dari Madura namanya Munir, dia menceritakan bahwa puncak musim panas di Saudi itu nanti sekitar September. Masya Allah, panas segini aja saya sudah tak tahan, bagaimana pula panas puncaknya di bulan September itu kata saya dalam hati saja.
Habis makan malam, kami mengadakan pertemuan tentang penyempurnaan rencana yang sudah dibuat di tanah air, mulai dari program kegiatan laporan, diskusi kelompok, membeli peralatan seperti alat perekam, printer membeli kartu seluler Saudi. Tetapi mengenai kartu seluler atau hp antara kartu di Indonesia seperti kartu simpati yang sudah ada kerja sama dengan operator Zain di Arab Saudi, sepertinya lebih murah dibanding dengan kartu Arab Saudi, misalnya SMS hanya Rp.700,- ke tanah air kalau menggunakan kartu Arab Saudi bisa Rp.1,300,-, kalau telponan ke tanah air satu menit Rp.7.000,- kartu Arab Saudi hampir segitu juga. . Habis pertemuan itu saya langsung menuju apartement karena saya sudah jamak Isya tadi dengan Maghrib.

Sebagian peserta berpose di Depan Gedung Ma’had Ali Lil Qadha
Kamis dan Jumat adalah hari libur di Saudi, oleh karena itu pada hari Kamis sebagian kawan ada yang keluar kampus membeli kebutuhannya masing-masing. Saya hanya melakukan kegiatan di Nadi al-Thulab semacam Balai Center Kegiatan Mahasiswa, di situ ada fasilitas internet gratis pakai Hot spot untuk internetan, atau fasilitas olah raga seperti ping pong dan bliar. Habis internetan ngombrol-ngobrol sama teman, kalau sudah bosan istirahat di kamar. Saya berupaya untuk saving tenaga dan menyesuaikan lingkungan dengan kesehatan badan.
Malam harinya habis, makan saya sempat menulis tulisan pendek, tentang Pak Wahyu yang saya kenal, atas permintaan dari salah seorang penginisiatif sdr Muslim WK PA Koto Baru Sumbar, untuk penerbitan buku kenangan dalam rangka menyambut pensiunnya Pak Dirjen. Saya tulis sekitar 2 halam, setelah saya edit copiannya saya serahkan kepada sdr Muslim. Jam 9 malam itu kami berkumpul lengkap membicarakan perumusan materi yang sudah diterima pada hari sebelumnya. Sebagai koordinator kelompok I, saya mengumpulkan teman bergabung dengan kelompo II merumuskan materi dalam sambutan pembukaan. Sampai sekitar jam 11 kami bubar dengan catatan bahwa draft laporan sudah bisa dibaca bersama ba’da Jumat.(bersambung)
{jcomments on}

Website Mahkamah Agung Republik Indonesia
Website Badilag
Website Pengadilan Tinggi Pekanbaru
Website Kejaksaan Tinggi Riau
Website Pemeritah Provinsi Riau
JDIH Mahkamah Agung
SIWAS Mahkamah Agung
Portal LIPA PTA Pekanbaru

