Pekanbaru||www.pta-pekanbaru.go.id

Senin 25 November 2024, pembinaan mental yang menjadi agenda rutin setiap senin pagi di PTA Pekanbaru disampaikan oleh Hakim Tinggi PTA Pekanbaru Drs. H. Bustamin HP, SH., MH. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula PTA Pekabaru dan diikuti oleh seluruh personil PTA Pekanbaru.
Judul pembinaan mental yang disampaikan pada hari ini adalah “Ikhlas”. Menurut M. Husaiani dalam bukunya yang berjudul “80 Pepeling Diri” ihklas bukan berarti menolak imbalan atas pekerjaan yang telan dilakukan. Menerima ataupun menolak tidak ada kaitannya dengan keihklasan. Justru kalua ada orang yang menolak imbalan karena takut disangka tidak ihklas, maka sejatinya ia tidak ihklas dalam hal itu.
Ihklas juga bukan memberi shadakah ala kadarnya. Jumlah sedekah yang banyak ataupun sedikit tidak ada hubungannya dengan keihklasan. Justru kalau ada orang menambah jumlah sedekahnya disebabkan takut dikira tidak ihklas, maka ia sebenarnya tidak ihklas.
Demikian pula orang yang pasrah menerima nasib yang kurang baik, bersifat aktif ataupun pasif ketika menerima nasib yang kurang baik, tidak ada hubungannnya dengan keihklasan, bahkan kalau ada orang yang ditimpa musibah dan hanya berdiam diri pasrah tanpa melakukan apapun supaya terlihat ihklas, berarti orang tersebut tidak ihklas.

Ihklas pada hakekatnya adalah melakukan sesuatu karena dan untuk Allah SWT semata, Apapun motifnya, apapun tujuannya, semua perbuatan harus bermuara kepada Allah SWT. Sebagai mana disebutkan dalam surat al- Insan ayat 9 tentang orang-orang yang memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan.
“Sesunguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan rihda Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan terimakasih dari kamu”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu yang kita berikan kepada orang lain, baik itu berupa materi atapun jasa, harus dilandasi dengan ridha Allah SWT. Orang yang sejak awal memiliki tujuan melakukan sesuatu hanya karena Allah WST, maka ia menjadi orang yang ihklas.
Keihklasan juga menjadi landasan pokok untuk beribadah kepada Allah SWT. Kita tidak mungkin beribadah tanpa diiringi dengan keihklasan, karena beribadah harus ditujukan hanya kepada Allah SWT semata.
Kalau kita beribadah tanpa diiringi dengan rasa ihklas, maka harus hati-hati karena bisa terjatuh dalam pebuatan syirik, ibadah yang dilakukan supaya dilihat orang akan menjadi riya yang merupakan syirik kecil.
Apabila ibadah karena ditujukan kepada selain Allah SWT maka orang yang melakukannya telah jatuh kepada syirik dan itu merupakan dosa besar. Perintah beribadah dengan ihklas terdapat dalam surat al-A`raf ayat 29
“Katakanlah Tuhankau menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hendaklah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengihklaskan ibadah semata-mata hanya kepada Nya sebagaimana kamu diciptakan semula”.
Pada akhirnya kita harus kembali memperbaiki niat kita dalam segala aspek perbuatan yang dilakukan. Baik kegiatan ibadah maupun kegitan lainnya. Karena segala perbuatan yang kita lakukan akan bernilai sebagaimana yang kita niatkan, sebagaimana dalam hadits, Rasulullah bersabda :
“Amal itu tergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang diniatkannya”.
Sehingga hanya perbuatan yang ditujukan kepada Allah SWT sajalah yang bisa dikatakan sebagai keihklasan.
Semoga pembinaan mental ini dapat membawa kita menjadi hamba Allah SWT yang lebih baik lagi kedepannya.

Website Mahkamah Agung Republik Indonesia
Website Badilag
Website Pengadilan Tinggi Pekanbaru
Website Kejaksaan Tinggi Riau
Website Pemeritah Provinsi Riau
JDIH Mahkamah Agung
SIWAS Mahkamah Agung
Portal LIPA PTA Pekanbaru

