Pekanbaru||www.pta-pekanbaru.go.id

Pada tanggal 6 Ramadhan 1447 H (24 Februari 2026), tausiah ba’da salat Zuhur di Mushalla Al Mahkamah PTA Pekanbaru disampaikan oleh Hakim Tinggi PTA Pekanbaru, Drs. H. Hudri, S.H., M.H., dengan judul “Puasa dan Kesehatan.” Tausiah tersebut diikuti oleh seluruh jemaah salat Zuhur Mushalla Al Mahkamah.

Dalam penyampaiannya, beliau mengingatkan bahwa manusia kelak akan menghadapi empat perkara yang tidak lagi dapat ditunda, yaitu ketika hendak dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dimasukkan ke dalam keranda. Apabila empat hak tersebut telah tiba, maka tidak ada lagi arti harta dan kedudukan. Oleh karena itu, selagi masih diberi kesempatan hidup, manusia hendaknya memperbaiki diri melalui ibadah, salah satunya dengan berpuasa.

Mengapa Puasa Berkaitan Erat dengan Kesehatan? Beliau mengutip hadis Rasulullah : “Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat.” Secara lahiriah, pada masa Rasulullah belum berkembang ilmu kesehatan seperti saat ini. Namun sabda beliau terbukti kebenarannya. Puasa, yang secara bahasa berarti menahan, mengajarkan pengendalian diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa.

Menahan diri inilah yang membawa dampak kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Secara medis, berbagai penelitian menyebutkan bahwa ketika seseorang berpuasa sekitar 8–10 jam, tubuh mulai melakukan proses detoksifikasi alami, membersihkan racun-racun dalam tubuh, serta memperbaiki sistem metabolisme. Namun apabila setelah berpuasa seseorang justru merasa tidak sehat, maka perlu dievaluasi bagaimana cara ia menjalankan puasanya, terutama dalam menjaga pola makan saat berbuka dan sahur.

Selain kesehatan jasmani, puasa juga menyehatkan rohani. Dalam bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Hal ini menunjukkan bahwa puasa menjadi sarana penyucian jiwa dan penguatan iman. Apabila seseorang masih belum mampu menjaga diri dari perbuatan maksiat meski sedang berpuasa, maka hendaknya ia mengevaluasi kualitas puasanya.

Salah satu penyakit hati yang disoroti dalam tausiah tersebut adalah dusta. Kebohongan merupakan sumber berbagai kerusakan. Dikisahkan bahwa keluarnya Nabi Adam dari surga bermula dari tipu daya dan dusta Iblis tentang buah khuldi. Oleh karena itu, apabila ingin membersihkan hati dan meraih kesehatan rohani, maka jauhilah dusta dalam segala bentuknya.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 36 dan doa yang sering kita panjatkan: “Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.”

(Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi).

Di akhir tausiah, beliau mengajak seluruh jemaah untuk menjadikan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai sarana memperbaiki diri, menjaga kesehatan jasmani, serta membersihkan hati agar menjadi insan yang lebih bertakwa.