Pekanbaru||www.pta-pekanbaru.go.id

Pada tanggal 20 Ramadhan 1447 H (10 Maret 2026), tausiah rutin yang dilaksanakan setelah sholat zuhur berjamaah di Musholla Al Mahkamah PTA Pekanbaru kembali digelar dan diikuti oleh para jemaah. Tausiah kali ini disampaikan oleh Hakim Tinggi PTA Pekanbaru Dra. Raudanur, MH dengan judul “Zikir untuk Penenang Hati dan Jiwa.”

Dalam tausiahnya, beliau menyampaikan bahwa manusia pada hakikatnya diciptakan dengan sifat mudah berkeluh kesah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ma’arij ayat 19–23, bahwa ketika manusia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan ketika mendapatkan kenikmatan ia cenderung kikir, kecuali orang-orang yang selalu menjaga shalatnya.

Karena itu, salah satu cara untuk menenangkan hati dan jiwa adalah dengan memperbanyak zikir kepada Allah SWT. Zikir berarti mengingat dan menyebut nama Allah dengan penuh kekhusyukan, baik dengan lisan maupun dalam hati. Bentuk zikir dapat dilakukan dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan Astaghfirullah.

Allah SWT juga memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berzikir sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

"Fadzkuruni adzkurkum wasykuruli wala takfurun" yang artinya “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152). Selain itu, perintah untuk berzikir juga terdapat dalam beberapa ayat lain, di antaranya QS. Al-Ahzab ayat 41 yang menyeru orang-orang beriman agar banyak mengingat Allah.

Dalam tausiah tersebut juga disampaikan beberapa hikmah dari berzikir, di antaranya: menenangkan hati, menjauhkan dari penyakit hati, mendapatkan ampunan dari Allah SWT, memperoleh perlindungan dari gangguan setan, memudahkan jalan menuju surga, serta melapangkan dan melancarkan rezeki.

Selain memperbanyak zikir, ketenangan hati juga dapat diperoleh dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hati yang tenang memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental seseorang, sehingga kehidupan menjadi lebih seimbang dan penuh ketenteraman.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menata keseimbangan emosional dalam kehidupan sehari-hari, antara lain memperbanyak ibadah dan zikir, menjaga pikiran positif, mempererat silaturahmi, mengelola emosi dengan baik, rutin berolahraga, serta berserah diri kepada takdir Allah SWT.

Di akhir tausiahnya, beliau mengajak seluruh jemaah untuk senantiasa membiasakan diri berzikir dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memperbanyak kalimat thayyibah dan mengingat Allah SWT, diharapkan hati menjadi lebih tenang, jiwa menjadi damai, serta kehidupan dipenuhi keberkahan.